Menu yang disajikan tidak sekadar mengenyangkan, tetapi juga dirancang akrab di lidah. Bumbu pasta khas Nusantara digunakan sebagai basis rasa, sehingga jemaah tidak perlu beradaptasi dengan cita rasa asing selama bermukim di Madinah.

Tahun ini, komposisi gizi jemaah juga mengalami peningkatan berdasarkan rekomendasi Kementerian Kesehatan yang melibatkan para ahli gizi dan akademisi. Asupan protein naik dari 75 gram menjadi 80 gram per sajian, sementara porsi nasi meningkat dari 150 gram menjadi 170 gram. Selain lauk dan nasi, jemaah juga mendapatkan buah-buahan, susu, serta puding dengan variasi berbeda setiap harinya, lengkap dengan air mineral 600 mililiter.

Jemaah diingatkan untuk segera menghabiskan makanan dalam rentang dua jam sejak diterima demi menjaga keamanan pangan di tengah cuaca Madinah yang panas.

Untuk jemaah lansia, mekanisme khusus disiapkan. Kebutuhan konsumsi mereka dikomunikasikan melalui ketua kloter, yang kemudian meneruskan permintaan tersebut kepada petugas konsumsi di hotel. Pendekatan ini memastikan kelompok rentan mendapatkan perhatian yang sebanding dengan kondisi fisik mereka.

Dengan seluruh kebutuhan makan terpenuhi secara sistematis, jemaah diharapkan dapat menjalani setiap momen di Tanah Suci dengan tenang — tanpa perlu memikirkan ke mana harus mencari makan setelah subuh atau saat menjelang magrib.



Follow Widget