Perbedaan keterangan antara pelapor dan terlapor inilah yang kini menjadi fokus penyelidikan polisi. Olah TKP digelar untuk mengumpulkan bukti fisik dan memperkuat salah satu versi kejadian yang saling bertolak belakang itu.

Dikutip dari Akun FB. @uak.akrim.nursin.asamin digrup Info Bone, Yuli juga mengungkapkan bahwa pada saat kejadian, lokasi tidak sepi. Sejumlah pejabat dan staf DPRD Bone disebut hadir dan menyaksikan insiden tersebut secara langsung.

Mereka yang disebut Yuli berada di lokasi antara lain Andi Ikbal Baso selaku Kepala Bagian Fasilitasi DPRD, Andi Zulfikar Efendy yang menjabat Kepala Subbagian Rumah Tangga DPRD, serta Andi Juanda Putra yang merupakan ajudan Ketua DPRD. Selain itu, hadir pula sejumlah nama lain: Andi Gugu, Anis, Accang, Hendra, Kasmir, Anti, Syarif, dan Andi Wardi.

Kehadiran banyak saksi di lokasi menjadi faktor penting dalam proses pembuktian kasus ini. Para pejabat dan staf yang disebut Yuli berpotensi dimintai keterangan oleh penyidik sebagai saksi mata atas apa yang sesungguhnya terjadi di kantin DPRD Bone hari itu.

Kasus ini memunculkan perhatian luas karena melibatkan pimpinan lembaga legislatif daerah. Dugaan penganiayaan yang dilakukan oleh seorang Ketua DPRD terhadap stafnya sendiri—di lingkungan kantor, di hadapan banyak orang—menjadi pertanyaan besar bagi publik Bone mengenai etika dan tata perilaku pejabat publik.



Follow Widget