Soal puncak musim hujan, BMKG memperkirakan mayoritas wilayah akan mencapai titik tertinggi curah hujannya pada Desember 2026. Sebanyak 155 ZOM atau 36,94 persen daratan Indonesia akan mengalami puncak hujan di bulan ini. Wilayah yang termasuk di antaranya adalah sebagian besar Sumatera, sebagian besar Kalimantan, sebagian Sulawesi Utara, pesisir selatan Gorontalo, sebagian besar Sulawesi Barat, serta berbagai wilayah di Papua.
Memasuki Januari 2027, giliran 162 ZOM atau 25,68 persen daratan Indonesia yang memasuki puncak musim hujannya. Wilayah-wilayah tersebut meliputi Riau bagian selatan, Kepulauan Riau, Bengkulu bagian utara, Kepulauan Bangka Belitung, Sumatera Selatan bagian barat, Lampung bagian utara, sebagian Jawa, Bali bagian tengah, NTB bagian barat, sebagian NTT, serta berbagai wilayah di Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Papua.
Kemudian pada Februari 2027, sebanyak 190 ZOM atau 16,79 persen daratan akan mencapai puncak hujannya. Wilayah yang masuk kelompok ini antara lain Lampung bagian tengah, sebagian besar Jawa, sebagian besar Bali, sebagian NTB, sebagian besar NTT, Sulawesi Barat bagian selatan, sebagian Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara bagian selatan, sebagian Maluku, serta sebagian besar Papua.
Yang perlu menjadi perhatian serius adalah soal durasi musim hujan itu sendiri. BMKG memprediksi bahwa 482 ZOM atau 51,90 persen daratan Indonesia akan mengalami musim hujan yang lebih pendek dari normalnya. Ini berarti jendela waktu untuk menampung air hujan akan semakin sempit — sebuah tantangan besar bagi sektor pertanian, pengelolaan sumber daya air, dan ketahanan pangan nasional.
Masyarakat yang tinggal di wilayah-wilayah terdampak diimbau untuk mempersiapkan diri menghadapi musim kemarau yang lebih panjang dari biasanya. Petani disarankan menyesuaikan jadwal tanam, sementara pemerintah daerah perlu mengoptimalkan manajemen air dan mengantisipasi potensi kebakaran lahan yang biasanya meningkat saat musim kering berkepanjangan.


Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.