JAKARTA, PUNGGAWANEWS – Sebelum ribuan anggota Pramuka berkumpul di Bumi Perkemahan Cibubur, para pemimpin gerakan ini terlebih dahulu berziarah ke tempat peristirahatan terakhir tokoh-tokoh yang meletakkan fondasi kepramukaan Indonesia. Ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka, Komjen Pol (Purn) Drs. Budi Waseso, memimpin rombongan menuju kompleks Astana Giribangun, Matesih, Karanganyar, Rabu (5/8/2026) — mengunjungi makam Presiden ke-2 RI Soeharto dan Ibu Tien Soeharto.
Ziarah ini bukan kunjungan biasa. Rangkaian perjalanan tersebut menjadi bagian dari peringatan Hari Pramuka ke-65 sekaligus momentum persiapan menuju Jambore Nasional XII 2026 yang semakin dekat.
Sebelum tiba di Karanganyar, rombongan yang juga menyertakan Ketua Kwartir Daerah Jawa Tengah Prof. Dr. Ir. S. Budi Prayitno, M.Sc., lebih dulu singgah di Blitar untuk berziarah ke makam Presiden Soekarno. Bagi Budi Waseso, dua nama besar ini mewakili akar sejarah yang tak boleh dilupakan oleh generasi Pramuka masa kini.
“Kita ziarah ke sesepuh Pramuka, yang pertama ke Blitar, Bung Karno. Selain Bapak Proklamator, beliau juga pendiri Gerakan Pramuka,” ujar Budi Waseso di sela kegiatan.
Perjalanan ziarah tidak berhenti di Giribangun. Rombongan kemudian melanjutkan langkah menuju kompleks makam raja-raja Mataram di Imogiri, Yogyakarta. Di sana, nama Sri Sultan Hamengku Buwono IX turut dikenang — sosok yang dikenal luas sebagai Bapak Pramuka Indonesia dan telah memberikan kontribusi besar bagi perkembangan gerakan ini sejak era awal kemerdekaan.
Bagi Budi Waseso, mengenang para pendahulu bukan sekadar ritual tahunan yang bersifat seremonial. Ziarah ini menjadi cermin bagi generasi penerus untuk memahami dari mana Gerakan Pramuka berasal dan ke mana seharusnya ia melangkah.
Ia menegaskan bahwa setiap fasilitas, setiap program, dan setiap nilai yang dijalankan Pramuka hari ini merupakan hasil dari kerja keras dan kepedulian para tokoh terdahulu. Mengenang mereka berarti memperbarui komitmen untuk meneruskan warisan yang telah dibangun.
Salah satu warisan paling nyata itu adalah Bumi Perkemahan Cibubur. Kawasan yang selama ini menjadi jantung kegiatan kepramukaan nasional tersebut disebut Budi Waseso tidak lepas dari perhatian besar Ibu Tien Soeharto terhadap perkembangan Gerakan Pramuka semasa hidupnya.
Karena itulah, ziarah ke Giribangun memiliki makna khusus. Pemanfaatan Bumi Perkemahan Cibubur dalam penyelenggaraan Jamnas XII menjadi salah satu bentuk nyata meneruskan cita-cita almarhum dan almarhumah.
“Kita bisa melaksanakan ini karena peninggalan Bu Tien Soeharto. Kita sebagai penerus melanjutkan keinginan almarhum dan almarhumah. Ini wujud syukur kita dan diharapkan melahirkan generasi yang unggul,” kata Budi Waseso dengan nada penuh penghormatan.
Jambore Nasional XII dijadwalkan berlangsung mulai 13 Agustus 2026 di Bumi Perkemahan Cibubur. Kegiatan besar ini diperkirakan akan dihadiri sekitar 19.000 peserta dari seluruh penjuru Indonesia, terdiri dari peserta didik, pendamping, dan pembina.
Angka itu bukan sekadar statistik kehadiran. Bagi Kwarnas, jumlah tersebut mencerminkan besarnya kepercayaan masyarakat dan daerah terhadap Gerakan Pramuka sebagai wadah pembentukan karakter generasi muda bangsa.
“Yang pasti hadir 19 ribu orang, pendamping dan pembinanya,” ungkap Budi Waseso.
Jamnas XII hadir di tengah tantangan zaman yang terus berubah. Generasi muda kini hidup dalam pusaran teknologi digital, arus informasi yang deras, dan tekanan sosial yang kompleks. Di sinilah Pramuka dinilai tetap relevan sebagai ruang pembentukan nilai yang tidak bisa digantikan oleh platform mana pun.
Budi Waseso menegaskan bahwa pendidikan kepramukaan masih memegang peran strategis dalam membangun karakter anak-anak dan remaja Indonesia. Nilai-nilai seperti kedisiplinan, kepedulian, kebersamaan, dan kecintaan terhadap bangsa perlu terus ditanamkan secara konsisten melalui kegiatan Pramuka yang terstruktur dan bermakna.
Dalam konteks itulah rangkaian ziarah ini menemukan relevansinya. Sebelum ribuan anak muda berkumpul dan menjalani pengalaman kepramukaan yang mungkin akan membentuk hidup mereka, para pemimpinnya terlebih dahulu menunduk dalam diam di depan pusara orang-orang yang membuat semua itu mungkin terjadi.
Dari Blitar ke Giribangun, lalu ke Imogiri — perjalanan tiga kota itu bukan hanya tentang ziarah. Itu adalah pengingat bahwa Gerakan Pramuka berdiri di atas bahu para raksasa, dan kini saatnya generasi penerus membuktikan bahwa warisan itu tidak disia-siakan.
FAQ
Mengapa Kwarnas berziarah ke makam Soeharto dan Ibu Tien sebelum Jamnas XII?
Ziarah ke Astana Giribangun merupakan bentuk penghormatan atas jasa Ibu Tien Soeharto terhadap Gerakan Pramuka, khususnya dalam pengembangan Bumi Perkemahan Cibubur yang menjadi lokasi Jamnas XII 2026.
Siapa saja tokoh yang diziarahi dalam rangkaian kegiatan ini?
Rombongan Kwarnas berziarah ke makam Presiden Soekarno di Blitar, makam Presiden Soeharto dan Ibu Tien di Giribangun Karanganyar, serta makam Sri Sultan Hamengku Buwono IX di Imogiri Yogyakarta.
Berapa peserta yang akan mengikuti Jambore Nasional XII 2026?
Jamnas XII yang dijadwalkan mulai 13 Agustus 2026 di Bumi Perkemahan Cibubur diperkirakan dihadiri sekitar 19.000 peserta, meliputi peserta didik, pendamping, dan pembina dari seluruh Indonesia.



Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.