Sudaryono mendorong para peserta untuk tidak sekadar menjadi anggota Pramuka yang terampil di alam terbuka, tetapi juga menjadi generasi yang sanggup berkontribusi nyata bagi masyarakat dan bangsa. Menurutnya, peluang keberhasilan selalu bisa diperbesar selama seseorang mau terus belajar dan tidak takut bermimpi besar.
Dalam rangkaian acara yang sama, dilakukan pula peresmian Center of Excellence for Global Integrated Farming Training and Education di kawasan Bumi Perkemahan Cibubur. Sudaryono bersama Kwartir Nasional Gerakan Pramuka secara resmi menandatangani prasasti pusat pelatihan pertanian terpadu berskala global tersebut.
Keberadaan Center of Excellence ini bukan tanpa alasan. Fasilitas ini dirancang sebagai ruang belajar bagi generasi muda untuk mengenal dan menguasai teknologi pertanian terpadu, perikanan modern, serta manajemen peternakan yang efisien. Sebuah langkah konkret untuk menjadikan kawasan perkemahan Cibubur lebih dari sekadar tempat berkumpul, tetapi pusat pengembangan kompetensi agraria bagi Pramuka Indonesia.
Ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka, Komjen Pol (Purn.) Dr. Budi Waseso, menegaskan bahwa sinergi antara Gerakan Pramuka dan HKTI bukan sesuatu yang datang tiba-tiba. Ia menyebut kolaborasi ini sebagai langkah strategis yang sejalan dengan kebutuhan bangsa saat ini, yakni memperkuat ketahanan dan kedaulatan pangan nasional secara berkelanjutan.
Menurut Budi Waseso, peserta Jambore Nasional yang berasal dari berbagai daerah memiliki latar belakang potensi wilayah yang berbeda-beda. Melalui kerja sama dengan HKTI, para Pramuka muda diharapkan mendapatkan pembekalan keterampilan yang relevan dengan kondisi daerahnya masing-masing, sehingga ilmu yang diperoleh benar-benar bisa diterapkan ketika mereka pulang ke kampung halaman.



Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.