Sikap ini bukan hal baru bagi Indonesia. Sejak era Soekarno, bangsa ini telah memilih jalur non-blok dan menjunjung tinggi penyelesaian konflik melalui diplomasi. Prinsip tersebut terus diwariskan lintas generasi dan kini kembali ditegaskan di hadapan situasi global yang kian memanas.
Dari mimbar Parlemen, Muzani menyerukan penghentian segera perang di kawasan Timur Tengah dan belahan dunia lainnya. Ia menekankan bahwa diplomasi harus selalu menjadi pilihan utama—ruang untuk berbicara, mendengar, dan menemukan titik temu di tengah perbedaan yang ada.
Seruan itu bukan tanpa konteks. Konflik bersenjata yang terus berkecamuk di berbagai penjuru dunia telah menelan korban jiwa dalam jumlah yang tak terbayangkan. Warga sipil menjadi korban paling rentan, sementara ambisi kekuasaan segelintir pihak terus mengabaikan nilai-nilai kemanusiaan yang paling mendasar.
Muzani mengingatkan bahwa perdamaian bukanlah kondisi yang datang begitu saja. Perdamaian adalah pilihan aktif—keberanian untuk menahan diri dari dorongan membalas, kesediaan untuk mendengar pihak yang berbeda, dan kemampuan menempatkan kehidupan manusia di atas segalanya.
Kata-kata itu terdengar bukan sebagai retorika kosong, melainkan sebagai seruan dari negara yang telah lama memegang teguh tradisi diplomasi damai. Indonesia menyadari bahwa dalam era yang serba kompleks ini, meja perundingan jauh lebih produktif daripada medan pertempuran.



Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.