Namun wajahnya tidak berseri. Justru sebaliknya.
Ia meletakkan seluruh hartanya di tempat terbuka, dapat diakses siapa saja yang membutuhkan tanpa perlu izin. Ia tidak mau harta itu menghisabnya di akhirat kelak.
Suatu hari ia mengambil selembar kain kafan yang halus, membelainya, lalu menangis tersedu-sedu. Ia teringat Mus’ab bin Umair yang gugur di Uhud dalam keadaan sangat miskin, bahkan tidak ada kain yang cukup untuk menutup seluruh jasadnya.
“Aku takut,” isak Khabab, “kalau-kalau kebaikan kami telah dipercepat balasannya di dunia ini.”
Bagi Khabab, kekayaan adalah ujian yang jauh lebih berat daripada besi panas Ummu Anmar.





















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.