PUNGGAWANEWS — Dalam khazanah sejarah Islam, tidak banyak sosok yang memadukan antara keteguhan iman sejak remaja, keberanian di medan perang, dan kebijaksanaan di puncak kekuasaan sekaligus dalam satu nama. Sa’ad bin Abi Waqqash adalah salah satu dari sedikit pengecualian itu.
Lahir dari keluarga bangsawan Bani Zuhra — klan yang sama dengan Aminah binti Wahb, ibu Rasulullah — Sa’ad tumbuh sebagai pemuda yang tangkas, pemberani, dan mahir memanah serta menunggang kuda. Ketika Islam pertama kali bersinar di Makkah, usianya baru 17 tahun. Namun kematangan hatinya jauh melampaui umurnya.
Ia termasuk orang ketiga atau keempat yang memeluk Islam, masuk melalui ajakan Abu Bakar Ash-Shiddiq. Keputusan itu bukan tanpa harga. Ibunya, Hamnah binti Sufyan, menolak keras. Ia mengancam mogok makan dan minum hingga Sa’ad meninggalkan Muhammad. Namun Sa’ad tidak goyah. Dengan lembut namun tegas ia berkata kepada ibunya bahwa meskipun sang ibu memiliki seratus nyawa dan semuanya pergi satu persatu, ia tidak akan meninggalkan agamanya. Peristiwa ini bahkan diabadikan dalam Al-Qur’an pada Surah Luqman ayat 14-15, yang mengajarkan bahwa kepatuhan kepada orang tua memiliki batas ketika bertentangan dengan ketauhidan.
Darah Pertama di Jalan Islam
Sa’ad adalah salah satu sahabat yang mengikuti pertemuan-pertemuan rahasia Rasulullah di rumah Al-Arqam bin Abi Al-Arqam. Suatu hari, ketika ia dan beberapa sahabat sedang menunaikan salat secara tersembunyi di sebuah lembah dekat Makkah, sekelompok orang musyrik Quraisy menyerang mereka. Sa’ad yang muda dan penuh semangat mengangkat tulang unta dan memukul kepala salah seorang penyerang — itulah darah pertama yang tertumpah dalam perjuangan Islam, dan itu datang dari tangannya.





















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.