Maka datanglah siksaan yang kelak dicatat sejarah dengan tinta darah. Ummu Anmar memerintahkan agar Khabab dibaringkan di atas bara api membara. Siba bin Abdil Uzza menginjak dadanya agar punggungnya terus menempel pada sumber panas. Tidak ada air yang disiramkan. Api itu padam dengan sendirinya, bukan karena belas kasihan para penyiksa, melainkan karena cairan dari lemak tubuh Khabab yang meleleh memadamkan nyala api.

Namun dari mulutnya yang tersiksa hanya terdengar satu kata: Ahad. Ahad. Ahad.

Menjadi Jembatan Hidayah Umar

Meski tersiksa, Khabab mengambil peran paling berbahaya di Mekah: mengajarkan Al-Qur’an secara diam-diam. Ia rutin mengunjungi rumah Said bin Zaid dan istrinya Fatimah, adik kandung dari Umar bin Khattab, sosok paling ditakuti di Mekah.

Suatu hari Umar mendatangi rumah adiknya dengan pedang terhunus. Khabab bersembunyi di balik tumpukan barang di sudut ruangan yang gelap. Dari persembunyiannya, ia menyaksikan momen bersejarah: Umar membaca lembaran surah Thaha yang tersimpan di sana, tangannya gemetar, matanya basah, wajah garangnya runtuh berganti kekhusyukan.



Follow Widget