Khabab pun mengucapkan dua kalimat syahadat. Ia menjadi orang keenam yang memeluk Islam, termasuk dalam golongan as-Sabiqun al-Awwalun, generasi pertama yang menjual dirinya kepada Allah dengan harga yang akan dibayar sangat mahal.
Punggung yang Dipanggang, Lisan yang Bertauhid
Berbeda dengan banyak sahabat yang menyembunyikan keimanan demi keselamatan, Khabab memilih terang-terangan. Ketika seorang pelanggan memintanya bersumpah demi Lata dan Uzza untuk menjamin kualitas pedang buatannya, ia menghentikan palunya.
“Aku tidak akan bersumpah demi batu yang tuli dan buta,” katanya. “Aku telah beriman kepada Allah yang satu.”
Kalimat itu menjadi pemicu badai. Berita sampai ke telinga Ummu Anmar. Bagi sang majikan, Khabab bukan manusia yang berhak memilih jalan hidupnya sendiri. Ia hanyalah alat produksi.





















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.