Kasus-kasus itu bukan isapan jempol. KDM menyebut pelaku pencurian sepeda motor, ayam, domba, bahkan labu pun pernah menjadi korban amukan massa. Dokumentasi kasus-kasus tersebut, kata dia, bisa disaksikan langsung di kanal media sosial miliknya yang memang aktif merekam berbagai persoalan sosial di lapangan.
“Ketika maling tertangkap, cenderung dihakimi bahkan sampai meninggal,” ungkapnya. Dalam logika KDM, dua pihak yang dirugikan dalam skenario itu: korban kejahatan yang kehilangan harta, dan pelaku yang kehilangan nyawa tanpa proses hukum.
Di sinilah sayembara itu masuk sebagai solusi. Dengan memberikan imbalan resmi kepada warga yang berhasil menangkap dan menyerahkan pelaku ke pihak berwenang, KDM berharap dorongan untuk menghakimi massa bisa diredam. Warga tidak lagi perlu melampiaskan amarah secara fisik karena ada kompensasi yang menunggu jika mereka bertindak sesuai prosedur.
Nominal hadiah yang telah diumumkan juga dirancang untuk menutup kerugian materiil korban kejahatan. Dengan kata lain, program ini sekaligus berfungsi sebagai mekanisme pemulihan ekonomi bagi mereka yang menjadi sasaran begal, copet, atau perampok.
KDM menutup penjelasannya dengan nada tegas namun tenang. Ia menegaskan bahwa sayembara ini bukan bentuk legitimasi kekerasan jalanan, melainkan instrumen pencegahan terhadap praktik main hakim sendiri yang sudah lama mengakar dan memakan korban dari dua sisi sekaligus.



Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.