Dedi bahkan bercanda bahwa dirinya berhak mendapat honor sebagai “asisten wali kota” karena ikut turun tangan menangani sampah dan bangunan liar di ibu kota provinsi itu. Candaan yang disambut tawa hadirin ini justru menegaskan keseriusannya dalam memastikan Kota Bandung tampil prima sebagai wajah Jawa Barat.
Keadilan pembangunan menjadi benang merah pidato Dedi. Ia dengan lantang mengingatkan bahwa modernisasi di pusat kota tidak boleh membuat wilayah-wilayah pinggiran terlupakan. Sukabumi, Garut, Cianjur Selatan, Ciamis, Kuningan, Majalengka, hingga Pangandaran—daerah-daerah yang masih bergantung pada jembatan bambu dan jalan desa yang belum memadai—harus mendapat perhatian yang setara.
Gubernur Jawa Barat ini juga menyoroti persoalan kemiskinan di wilayah-wilayah yang kaya sumber daya alam namun miskin dalam pembagian hasil. Ia secara terbuka mengkritik pola industrialisasi yang menguras bahan baku dari hulu tetapi membiarkan masyarakat setempat tetap hidup dengan upah rendah dan lingkungan yang rusak.
“Jangan sampai hulu dikorbankan demi hilir. Hulu dan hilir harus sama kesejahteraannya,” tegas Dedi, sembari mengisyaratkan akan ada keputusan tegas terkait industri di Bandung Barat yang selama ini dinilai merugikan warga sekitar.
Untuk kemacetan di Padalarang, Dedi memastikan solusi konkret sedang digarap. Pemerintah Provinsi Jawa Barat kini tengah membebaskan lahan untuk jalur baru yang menghubungkan Stasiun Padalarang, melewati Kota Baru Parahyangan, dan keluar di Cipatan. Target penyelesaian dipatok pada 2027.



Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.