Gagasan ini bukan tanpa alasan. Dedi percaya bahwa sopir yang sekaligus menjadi pemilik kendaraan akan jauh lebih bertanggung jawab dalam merawat armadanya dibandingkan sistem setoran konvensional. Ini, menurutnya, adalah cara membangun kesejahteraan dari bawah—bukan sekadar memindahkan keuntungan ke tangan pemodal besar.

Namun Dedi tidak berhenti pada soal kendaraan. Ia menyoroti bahwa modernisasi transportasi harus dibarengi dengan perubahan perilaku masyarakat sebagai pengguna. Membuang sampah pada tempatnya, tertib di ruang publik, dan menghargai fasilitas bersama adalah nilai-nilai yang ia ingin jadikan tren baru di Kota Bandung, Kabupaten Bandung, Cimahi, dan Sumedang.

Di sisi lain, pemerintah pun dituntut untuk berbenah. Trotoar bersih, penerangan jalan yang memadai, marka jalan yang teratur, serta keamanan yang terjaga sepanjang waktu menjadi prasyarat mutlak agar peningkatan volume penumpang tidak justru memicu lonjakan kejahatan di ruang-ruang publik.

Kabar gembira lainnya datang untuk warga Kota Bandung. Dedi mengonfirmasi bahwa Bandara Husein Sastranegara akan kembali diaktifkan pada Agustus mendatang dengan rute penerbangan ke 24 kota. Lebih jauh, ia bahkan mendorong agar penerbangan internasional pun bisa kembali dilayani dari Husein, dengan alasan konektivitas yang lebih baik dibandingkan Bandara Kertajati yang dinilainya belum optimal dari sisi aksesibilitas.

“Multiplier effect-nya nyata. Penerbangan yang tersambung akan mendongkrak pariwisata dan kunjungan ke Bandung,” ujarnya, sembari mengingatkan Wali Kota Bandung agar memastikan layanan publik kota siap menyambut lonjakan wisatawan—dari kebersihan trotoar hingga kualitas jalan.



Follow Widget