Babinsa selama ini dikenal sebagai ujung tombak TNI AD yang paling dekat dengan rakyat. Mereka tinggal di desa, tahu siapa kepala suku, kenal dengan petani yang terbiasa membakar lahan sebagai cara murah membersihkan kebun. Merekalah yang diminta Prabowo untuk bicara langsung, menjelaskan bahaya pembakaran hutan kepada warga secara personal, bukan lewat spanduk atau selebaran.

Pendekatan ini mengandung logika yang sederhana tapi sering diabaikan: kebijakan yang tidak sampai ke telinga rakyat kecil, tidak akan pernah mengubah di lapangan.

Selama bertahun-tahun, kebakaran hutan di Indonesia menjadi bencana yang berulang nyaris tanpa henti. Tiap tahun ada asap, tiap tahun ada kemarahan publik, tiap tahun ada janji penegakan hukum—lalu semuanya menguap begitu musim hujan datang. Siklus ini sudah cukup lama berlangsung hingga terasa seperti ritual yang melelahkan.

Kali ini Prabowo mencoba memasukkan elemen yang berbeda: tentara sebagai agen perubahan perilaku masyarakat. Bukan represi, bukan penindakan—tapi dialog di beranda rumah warga, di balai desa, di sawah dan kebun.

Apakah ini akan cukup? Itu pertanyaan yang jujur perlu dijawab dengan data dan waktu. Kebakaran hutan bukan semata soal kelalaian petani kecil—di balik asap tebal itu sering tersembunyi kepentingan korporasi besar yang membuka lahan dengan cara paling murah.



Follow Widget