Agenda berikutnya tak kalah berat: penanganan bencana. Presiden meminta laporan langsung mengenai kondisi pascagempa di Flores, yang meninggalkan luka di tengah masyarakat kepulauan. Proses pemulihan, distribusi bantuan, dan pembenahan infrastruktur menjadi bahan evaluasi malam itu.

Erupsi Gunung Merapi juga masuk dalam daftar pembahasan. Gunung yang tidak pernah benar-benar tidur itu kembali memaksa perhatian pemerintah. Penanganan pengungsian, koordinasi lintas instansi, dan kesiapsiagaan warga di lereng gunung menjadi sorotan yang Prabowo tekankan kepada jajarannya.

Namun dari semua agenda malam itu, isu kebakaran hutan dan lahan—yang lazim disebut karhutla—tampaknya menjadi yang paling membara, bukan hanya secara harfiah.

Kalimantan dan Sumatera kembali menjadi zona merah. Dua pulau besar itu seolah tak pernah lepas dari ancaman api yang melalap gambut, meracuni udara, dan menghancurkan ekosistem dalam hitungan jam. Padahal di atas tanah yang terbakar itu, ada kehidupan, ada desa, ada anak-anak yang menghirup asap setiap musim kemarau.

Prabowo tak mau hanya mengandalkan pemadam dan helikopter water bombing. Ia memerintahkan pendekatan yang lebih membumi: edukasi langsung oleh para Babinsa—Bintara Pembina Desa—kepada warga di tingkat desa.



Follow Widget