SINJAI, PUNGGAWANEWS – Lapangan Nasional Sinjai berubah menjadi lautan aktivitas pada Minggu pagi, 27 September 2026. Bukan sekadar tempat biasa—kawasan Car Free Day itu kini menjelma menjadi ruang hidup yang mempertemukan semangat warga dengan geliat ekonomi pelaku usaha kecil.
Bupati Sinjai, Hj. Ratnawati Arif, hadir langsung di tengah keramaian itu. Bukan sekadar kunjungan seremonial, melainkan upaya nyata untuk melihat dari dekat bagaimana masyarakat memanfaatkan ruang publik yang selama ini terus digenjot pengembangannya oleh pemerintah daerah.
Sejak matahari belum sepenuhnya tinggi, warga Sinjai sudah memadati kawasan lapangan nasional. Ada yang berlari kecil, bersepeda, atau sekadar duduk bersantai bersama keluarga. Suasana pagi yang semestinya lengang berubah menjadi denyut kehidupan yang hangat dan penuh warna.
Di sela-sela aktivitas itu, deretan lapak UMKM berdiri berjajar menawarkan aneka dan jajanan. Aroma gorengan hangat, minuman segar, hingga kudapan tradisional berpadu menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung yang baru selesai berolahraga.
Ratnawati tidak sekadar berjalan dan menyapa warga. Ia menyimak, mengamati, dan mencatat. Baginya, CFD bukan hanya soal bebas kendaraan bermotor—ini soal bagaimana ruang publik bisa bekerja untuk dua tujuan sekaligus: kesehatan masyarakat dan perputaran ekonomi lokal.
“Melalui kegiatan Car Free Day ini, kami berharap para pelaku UMKM di Sinjai dapat ikut berpartisipasi sekaligus menjalankan usaha mereka. Sehingga masyarakat yang hadir juga bisa menikmati beragam menu jajanan yang tersedia,” ujar Ratnawati di sela kunjungannya.
Pernyataan itu bukan sekadar harapan kosong. Ratnawati melihat potensi besar yang selama ini belum tergarap maksimal. Ketika ratusan bahkan ribuan orang berkumpul di satu titik setiap pekan, itu adalah peluang pasar yang sesungguhnya bagi pelaku UMKM untuk menjangkau konsumen secara langsung, tanpa biaya promosi yang mahal.
Menurutnya, manfaat CFD harus dirasakan secara berlapis. Warga mendapat ruang untuk bergerak dan menjaga kebugaran. Pelaku usaha mendapat panggung untuk memperkenalkan produk mereka. Dan pemerintah daerah mendapat momentum untuk menggerakkan roda ekonomi dari bawah.
“Dengan adanya CFD ini, roda perekonomian juga bisa terus berputar. Masyarakat bisa berolahraga, kemudian menikmati jajanan yang sehat dari para pelaku UMKM,” katanya.
Namun Ratnawati juga realistis. Potensi besar itu hanya akan terwujud jika dikelola dengan serius dan teratur. Ia menyoroti satu hal yang menurutnya perlu segera dibenahi: penataan lapak UMKM yang masih belum optimal.
Bupati meminta Dinas Koperasi, UKM, dan Tenaga Kerja Kabupaten Sinjai untuk turun tangan langsung mengatur tata letak lapak. Bukan sekadar memperindah tampilan kawasan, melainkan memastikan setiap pelaku UMKM mendapat kesempatan yang adil dan setara.
Salah satu mekanisme yang ia tekankan adalah sistem rolling atau pergantian posisi lapak secara berkala. Sistem ini dirancang agar tidak ada pelaku usaha yang terus-menerus menempati lokasi strategis, sementara yang lain terjebak di sudut yang sepi pengunjung.
“Area lapak UMKM perlu ditata dengan baik, termasuk dilakukan rolling tempat. Jadi semua UMKM bisa merasakan lokasi yang menurut mereka paling baik untuk berjualan,” tegasnya.
Gagasan ini menyentuh persoalan yang kerap luput dari perhatian: keadilan ruang bagi pelaku usaha kecil. Di banyak kawasan serupa di kota-kota lain, lokasi premium selalu diperebutkan dan sering kali hanya dinikmati oleh segelintir pihak yang lebih dulu hadir atau punya koneksi lebih luas.
Dengan sistem rolling, pemerintah Sinjai mencoba membangun ekosistem yang lebih sehat—di mana keberhasilan berjualan ditentukan oleh kualitas produk dan pelayanan, bukan semata oleh posisi lapak yang kebetulan lebih ramai dilintasi pengunjung.
Penataan yang rapi juga diharapkan memberi dampak visual yang positif. Kawasan CFD yang teratur dan bersih secara otomatis akan lebih menarik minat masyarakat untuk datang lebih sering, dan itu berarti lebih banyak potensi transaksi bagi para pelaku UMKM.
Ratnawati menegaskan bahwa pemerintah Kabupaten Sinjai berkomitmen untuk terus mendampingi pelaku UMKM, tidak hanya saat acara-acara besar, tetapi juga dalam aktivitas mingguan seperti CFD yang rutin digelar setiap akhir pekan.
Keterlibatan aktif pemerintah daerah dalam kegiatan seperti ini bukan tanpa alasan. Di tengah berbagai tantangan ekonomi yang dihadapi pelaku usaha kecil, kehadiran pemerintah yang hadir secara fisik dan memberikan kebijakan konkret adalah sinyal penting bahwa mereka tidak berjuang sendiri.
CFD Lapangan Nasional Sinjai kini bukan sekadar agenda mingguan. Ia sedang bertransformasi menjadi ekosistem kecil yang hidup—tempat warga bisa sehat, pelaku usaha bisa berkembang, dan komunitas bisa bersama dalam satu kawasan yang sama.
Jika dikelola dengan konsisten dan penuh komitmen, Lapangan Nasional Sinjai berpeluang menjadi contoh nyata bagaimana ruang publik bisa menjadi mesin pertumbuhan ekonomi lokal yang sederhana, inklusif, dan berkelanjutan.


Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.