“BULOG harus menjadi pelayan terbaik bagi masyarakat di bidang logistik pangan,” ujar Rizal. Ia menambahkan bahwa penyaluran beras dan komoditas pangan lainnya harus dilakukan secara profesional, tepat waktu, dan dengan kualitas terbaik.
Pernyataan itu mencerminkan pergeseran orientasi kelembagaan. BULOG tidak lagi sekadar buffer stock agency yang menyimpan beras saat surplus dan melepasnya saat defisit. Kini, lembaga ini dituntut aktif memastikan distribusi pangan berjalan merata—dari Sabang hingga Merauke, termasuk daerah-daerah yang secara geografis paling sulit dijangkau.
Papua adalah ujian nyata dari komitmen itu. Dengan kondisi geografis yang menantang, infrastruktur yang belum merata, dan ketergantungan tinggi pada pasokan dari luar pulau, memastikan beras berkualitas tersedia secara konsisten di Papua adalah pekerjaan yang jauh lebih kompleks dibanding di Pulau Jawa.
Namun justru di sinilah BULOG memilih untuk berdiri. Kunjungan Direktur Utama ke Jayapura menjadi sinyal bahwa perhatian tidak hanya tertuju pada pusat—Papua pun masuk dalam prioritas utama pengawasan dan penguatan ketahanan pangan nasional.
Ke depan, dengan stok yang diperkuat, sistem pengawasan mutu yang diperketat, dan distribusi yang terus diperbaiki, BULOG berupaya memastikan tidak ada satu pun warga Indonesia yang harus menerima beras di bawah standar—apalagi karena alasan geografis.



Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.