JAKARTA, PUNGGAWANEWS – Selasa sore, 7 Juli 2026, Gedung Pustakaloka, Kompleks Parlemen Senayan, menjadi saksi momen bersejarah. Perdana Menteri India Narendra Modi berdiri di hadapan para anggota parlemen Indonesia, menyampaikan pidato yang menegaskan betapa eratnya hubungan dua negara besar Asia ini—sebuah kehormatan langka yang jarang diberikan kepada pemimpin asing.

Presiden Prabowo Subianto hadir mendampingi Modi secara langsung. Keduanya memenuhi undangan dari tiga pimpinan lembaga legislatif tertinggi Indonesia: Ketua MPR RI, Ketua DPR RI, dan Ketua DPD RI. Kehadiran Prabowo di sisi Modi bukan sekadar protokol—ini adalah sinyal kuat tentang seberapa tinggi Indonesia menempatkan hubungan bilateral dengan India saat ini.

Satu hal yang menarik perhatian sejak awal adalah lokasi pelaksanaannya. Acara ini tidak digelar di Gedung Nusantara yang biasa menjadi jantung sidang DPR RI, melainkan di Gedung Pustakaloka. Alasannya sederhana namun bermakna: Gedung Nusantara tengah direnovasi untuk menyambut peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia pada Agustus mendatang.

Perpindahan lokasi itu tidak mengurangi bobot acara sedikit pun. Gedung Pustakaloka justru menjadi panggung yang cukup intim namun tetap khidmat untuk pertemuan bersejarah ini.

Dalam pidatonya, Modi membuka dengan rasa terima kasih atas sambutan hangat yang ia terima dari Indonesia. Namun pernyataan yang paling membekas bukan sekadar ucapan basa-basi diplomatik. Modi berbicara tentang akar—tentang warisan peradaban yang menghubungkan India dan Indonesia jauh sebelum kedua negara ini berdiri sebagai bangsa merdeka.



Follow Widget