Untuk menjangkau seluruh penerima secara merata, penyaluran tidak hanya mengandalkan jaringan Bulog yang telah mapan. Koperasi Desa dan Kelurahan Merah Putih (KDKMP) juga dilibatkan sebagai mitra distribusi, dengan syarat memiliki fasilitas penyimpanan dan distribusi yang memadai. Kombinasi dua jalur ini diharapkan mempercepat pemerataan bantuan hingga ke daerah-daerah terpencil.

Ketepatan sasaran menjadi perhatian serius dalam program ini. Penetapan penerima manfaat menggunakan Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN) versi terbaru yang diterbitkan Badan Pusat Statistik. Penggunaan data terintegrasi ini dirancang untuk meminimalkan kesalahan sasaran yang kerap menjadi kritik dalam program bantuan sosial sebelumnya.

Jumlah penerima tahap kedua ini relatif stabil dibandingkan tahap pertama. Pada periode Februari hingga Maret 2026, sebanyak 33,14 juta KPM berhasil dijangkau dengan tingkat realisasi mencapai 99,7 persen. Artinya, hampir tidak ada penerima yang luput dari distribusi—sebuah capaian yang menjadi tolok ukur pelaksanaan tahap berikutnya.

Pada tahap pertama, pemerintah tidak hanya mendistribusikan beras. Sebanyak 664.880 ton beras dan 132.970 kiloliter minyak goreng telah disalurkan kepada jutaan keluarga yang membutuhkan. Kombinasi dua komoditas pokok itu memberikan dampak langsung terhadap pengeluaran rumah tangga penerima manfaat.

Untuk mendanai seluruh program prioritas ini, pemerintah menyiapkan anggaran sebesar Rp17,52 triliun. Nilai yang besar itu mencerminkan komitmen politik Presiden Prabowo Subianto terhadap ketahanan pangan dan perlindungan sosial sebagai dua pilar utama kebijakan dalam negeri.



Follow Widget