Presiden tidak berhenti di situ. Ia juga memerintahkan agar para ilmuwan yang hadir dalam diskusi tersebut dilibatkan langsung dalam proses percepatan kapasitas lembaga baru ini. Mereka akan berfungsi sebagai narasumber ahli, menjadi rujukan agar pengalaman dan penelitian bertahun-tahun yang sudah mereka lakukan tidak terbuang percuma dan tidak perlu diulang dari nol.

Prabowo juga menekankan pentingnya pemetaan lahan gambut secara menyeluruh dan segera. Pemetaan itu nantinya akan mengelompokkan kawasan gambut berdasarkan peruntukannya — mana yang layak untuk budidaya tanaman, mana yang cocok untuk perikanan, dan mana yang harus dijaga sebagai kawasan konservasi. Langkah ini dinilai krusial agar pengelolaan gambut ke depan bisa lebih tepat sasaran dan tidak justru memperparah kerusakan ekosistem.

Satu hal yang mendapat perhatian besar dalam diskusi itu adalah pendekatan berbasis komunitas. Para ilmuwan menegaskan bahwa cara paling efektif, paling efisien, dan paling cepat dalam menangani kebakaran gambut justru berasal dari masyarakat yang tinggal paling dekat dengan lahan tersebut. Oleh karena itu, Presiden mendukung dihidupkan kembali program Masyarakat Peduli Api (MPA) — kelompok komunitas yang terlatih dan siap bertindak cepat ketika api mulai muncul.

Berbagai praktik baik dari lapangan juga dipaparkan dalam diskusi itu. Mulai dari pembangunan pompa cepat untuk pemadaman, hingga perhitungan teknis penanganan dari udara. Semua gagasan tersebut disambut positif oleh Presiden dan akan dijadikan referensi bagi BPGMN yang akan segera beroperasi.

Presiden juga menyoroti pentingnya kearifan lokal sebagai fondasi utama pengelolaan gambut. Pengetahuan masyarakat adat dan lokal yang sudah ada jauh sebelum teknologi modern masuk, menurut para ahli, justru sering kali lebih relevan dan berkelanjutan dalam menjaga ekosistem gambut.



Follow Widget