MAKASSAR, PUNGGAWANEWS – Tidak semua jenderal ingat jalan pulang. Irjen Pol. Dr. M. Awal Chairuddin rupanya masih hafal — bahkan tanpa iring-iringan mobil patroli yang biasanya mengawal pejabat sekelas dirinya.

Pada 2 Oktober 2026, Kapolri Jenderal Polisi Suyudi Ario Seto menandatangani Surat Telegram Nomor ST/2205/X/KEP./2026, meresmikan Awal Chairuddin sebagai Kepala Kepolisian Daerah Sulawesi Selatan. Ia menggantikan Irjen Pol. Djuhandhani Rahardjo Puro yang mendapat penugasan baru di Markas Besar Polri.

Bagi sebagian orang, ini adalah rotasi jabatan biasa. Bagi Awal, ini adalah perjalanan pulang yang panjang dan berliku.

Pria kelahiran Makassar, 3 Desember 1971, itu bukan nama asing di lingkungan kepolisian nasional. Lulusan Akademi Kepolisian angkatan 1994 ini pernah dipercaya mengemban tugas sebagai ajudan Wakil Presiden RI Jusuf Kalla — posisi bergengsi yang lazimnya hanya diberikan kepada perwira dengan rekam jejak bersih dan kemampuan di atas rata-rata.

Sebelum tiba di kursi Kapolda Sulsel, Awal mengisi jabatan sebagai Analis dan Advokasi Hukum Kepolisian Utama Tingkat I di Divisi Hukum Polri. Perjalanan kariernya merentang dari dunia reserse hingga berbagai jabatan struktural di Mabes Polri — portofolio yang menjadikannya kandidat matang untuk memimpin salah satu Polda terbesar di kawasan Indonesia timur.

Namun gelar doktor, bintang dua di pundak, dan daftar jabatan panjang itu ternyata tidak mengubah satu sederhana yang ia pertahankan: pulang ke Takalar tanpa pengawalan.

Keluarga besar Awal Chairuddin bermukim di Lingkungan Bilacaddi, Kelurahan Maradekaya, Kecamatan Pattallassang, Kabupaten Takalar. Di sana, ia bukan jenderal. Ia adalah saudara, keponakan, dan tetangga yang masih ingat dari mana ia berasal.

Ruslin Karaeng Leo, sepupu Awal, menjadi salah satu saksi paling jujur dari karakter asli sang jenderal. Kepada wartawan yang menghubunginya pada Sabtu, 3 Oktober 2026, Ruslin menceritakan bagaimana Awal tidak pernah memutus tali silaturahmi dengan keluarga besarnya di Takalar, meski tugas bertahun-tahun menggiringnya jauh ke Jakarta.

“Pak jenderal selalu menolak perlakuan khusus pengawalan ketika pulang kampung bertemu keluarganya di Takalar,” kata Ruslin.

Pernyataan itu mungkin terdengar enteng. Tapi siapa pun yang pernah menyaksikan protokol keamanan pejabat tinggi Polri — dengan deretan kendaraan, petugas berseragam, dan jalan yang dikosongkan — akan paham bahwa menolak semua itu saat pulang kampung bukan hal sepele. Itu pilihan sadar. Dan pilihan sadar selalu bercerita lebih banyak daripada pernyataan resmi mana pun.

Awal juga dikenal rutin berziarah ke makam kedua orang tuanya di Lingkungan Bone-bone, Kelurahan Maradekaya. Sebuah ritual yang, menurut Ruslin, tidak pernah ia tinggalkan meski jabatan silih berganti dan jarak antara Jakarta dan Takalar tidak pernah benar-benar terasa dekat.

Latar belakang keluarganya pun bukan latar belakang sembarangan. Awal merupakan putra pasangan almarhum Drs. H. Chairuddin Burhan, yang pernah berkarier di Lembaga Administrasi Negara, dan Dra. Hj. Hatma Tamma, M.Si., seorang akademisi dan dosen Universitas Hasanuddin. Dari keluarga intelektual itulah seorang anak yang kemudian menyelesaikan pendidikan doktoral Ilmu Administrasi Publik di Universitas Negeri Makassar pada 2024 — di tengah-tengah karier kepolisian yang tak pernah berhenti bergerak.

Sulawesi Selatan yang kini ia pimpin bukan provinsi yang bisa dikelola dengan pendekatan birokratis semata. Kompleksitas sosial, dinamika politik lokal, dan tantangan keamanan yang berlapis-lapis menuntut lebih dari sekadar kapasitas administratif. Dari kejahatan jalanan di Makassar yang tak kunjung reda, konflik agraria di kabupaten-kabupaten pelosok, hingga tekanan politik yang kerap berselimut kepentingan sempit — semua itu menanti Kapolda baru di mejanya.

Awal mewarisi tongkat komando Djuhandhani di tengah berbagai persoalan yang belum tuntas. Setiap pergantian pimpinan selalu melahirkan harapan baru dari masyarakat — harapan bahwa perubahan di puncak akan terasa hingga ke lapisan paling bawah, bukan sekadar pergantian nama di papan nama kantor.

Yang membedakan Awal dari pendahulu-pendahulunya adalah sesuatu yang tidak bisa diperoleh dari kursus kepemimpinan mana pun: ia memahami Sulawesi Selatan bukan hanya dari laporan intelijen dan data statistik, melainkan dari pengalaman hidup yang mengakar. Ia tahu bau tanah Takalar setelah hujan. Ia tahu di mana makam orang tuanya. Dan ia masih mau pulang ke sana tanpa satu pun mobil patroli di belakangnya.

Itu bukan jaminan kepemimpinan yang sempurna — tidak ada yang bisa menjamin itu. Tapi setidaknya, itu adalah modal awal yang tidak semua orang punya.

Kini Sulawesi Selatan punya Kapolda baru. Seorang jenderal bintang dua dengan gelar doktor, portofolio nasional yang panjang, dan pulang kampung yang masih ia jaga seperti anak-anak menjaga janji kepada ibunya.

Apakah kedekatan personal dengan tanah yang ia pimpin akan menjadi kekuatan terbesar dalam kariernya — atau justru ujian terberat yang harus ia navigasi dengan sangat hati-hati — itu adalah pertanyaan yang hanya waktu dan Sulawesi Selatan yang bisa menjawabnya.



Follow Widget