JAKARTA, PUNGGAWANEWS – Dua belas tahun. Itulah lamanya Indonesia membiarkan kebun-kebun tebu nasional tanpa peremajaan berarti. Presiden Prabowo Subianto mengungkap fakta mengejutkan itu dalam sebuah forum pertanian, sekaligus mengumumkan gebrakan besar: program peremajaan tebu 100.000 hektar per tahun di bawah komando Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman.
Prabowo tidak menyembunyikan kegeramannya. Selama lebih dari satu dekade, sektor gula nasional berjalan tanpa pembaruan tanaman secara sistematis—sebuah kelalaian yang ia sebut sebagai akar dari ketergantungan Indonesia pada impor gula yang berlarut-larut.
“Tadi Menteri Pertanian menyampaikan kepada saya bahwa sudah 12 tahun tidak ada peremajaan tebu,” kata Prabowo dalam forum tersebut, dengan nada yang lebih menyerupai teguran ketimbang laporan.
Amran, yang dikenal sebagai menteri pertanian yang berani dan tegas, langsung merespons dengan target ambisius. Ia menjanjikan program 100.000 hektar per tahun akan rampung dalam empat tahun. Namun ketika Prabowo mendesaknya, Amran justru menaikkan taruhan: dua tahun.
Prabowo tertawa, tapi keseriusannya jelas. “Bagus, tapi jangan sampai masuk rumah sakit,” ujarnya. Ia kemudian menyematkan kalimat yang terasa seperti peneguhan moral: “Negara dan bangsa masih butuh kau.”
Pernyataan itu bukan sekadar basa-basi. Ini adalah sinyal bahwa Prabowo menaruh kepercayaan penuh kepada Amran untuk mengembalikan kedaulatan gula Indonesia—komoditas strategis yang selama bertahun-tahun menjadi sumber kebocoran devisa negara.
Program peremajaan tebu besar-besaran ini masuk dalam kerangka visi swasembada pangan yang menjadi salah satu prioritas utama pemerintahan Prabowo. Dalam forum yang sama, ia mengumumkan bahwa target swasembada pangan secara umum sudah mulai menampakkan hasil nyata.
Capaian itu bukan satu-satunya yang ia banggakan. Indonesia kini menjadi negara pertama di dunia yang berhasil memproduksi bahan bakar campuran berbasis kelapa sawit dengan kadar 50 persen atau B50. Mulai Juli ini, Indonesia resmi tidak lagi mengimpor solar dari luar negeri.
“Lebih baik uang itu beredar di Indonesia, dinikmati oleh petani-petani sawit di seluruh Indonesia,” tegas Prabowo.
Tidak berhenti di sana. Di hadapan para pejabat dan tamu undangan, Prabowo mengumumkan rencana pembangunan pabrik etanol baru. Saat ini Indonesia baru memiliki satu pabrik etanol yang mampu mencampur bahan bakar dengan 10 persen etanol atau E10. Namun para teknisi di lapangan menyebut potensi hingga E20 sudah dalam jangkauan.
Prabowo langsung memutuskan: minimal 30 pabrik akan dibangun, bahkan ia membuka kemungkinan hingga 50 pabrik. “India sudah E20, Brazil sudah E100. Masa Indonesia enggak bisa?” serunya, disambut sorak-sorai hadirin.
Di sisi energi, ia juga mengumumkan keberhasilan mengaktifkan kembali blok gas yang sempat mangkrak selama 28 tahun—salah satu yang terbesar di kawasan. Sebuah prestasi yang ia sebut sebagai bukti bahwa Indonesia mampu menggerakkan aset-aset yang selama ini tidur.
Namun di balik semua optimisme itu, Prabowo menyisipkan peringatan keras. Ia menegaskan tidak akan memberi toleransi kepada siapa pun—pejabat, birokrat, maupun petinggi BUMN—yang dipercaya dan digaji rakyat, namun justru mengkhianati kepercayaan itu.
“Apalagi mencuri uang rakyat. Saya tidak toleransi. Saya tidak akan ragu-ragu,” katanya dengan nada datar namun penuh bobot.
Penertiban besar-besaran, kata Prabowo, sedang berjalan di berbagai sektor: penyelundupan, tambang ilegal, perkebunan ilegal, perikanan ilegal, hingga permainan dagang yang tidak sah. Ia menyebutnya sebagai “pekerjaan besar” yang membutuhkan kerja keras seluruh elemen.
Prabowo juga menyerukan persatuan. Bukan persatuan retoris, melainkan persatuan yang ia anggap sebagai syarat mutlak untuk merebut kembali kedaulatan sumber daya alam Indonesia.
“Bersatulah untuk mengamankan, menguasai kembali semua kekayaan bangsa Indonesia supaya rakyat kita bisa menikmati kekayaan tersebut,” ujarnya.
Ia mengingatkan bahwa perjuangan kemerdekaan Indonesia butuh ratusan tahun, diisi dengan darah, keringat, dan air mata. Kedaulatan ekonomi, menurutnya, membutuhkan semangat yang tidak kalah besar.
Di penghujung pidatonya, Prabowo menyampaikan pesan yang terasa personal kepada para menterinya. Ia berguyon soal kemampuan tentara yang bisa tidur di tengah upacara—lalu mengingatkan bahwa zaman sudah berbeda, dan tidak ada lagi ruang untuk kendur.
“Kalau mau ilmu, nanti saya kasih ilmu,” katanya, setengah bercanda, setengah serius.
Dua belas tahun tanpa peremajaan tebu adalah cermin dari masalah yang lebih besar: tata kelola sektor pangan yang selama ini berjalan tanpa rasa urgensi. Kini, dengan Amran di garis terdepan dan Prabowo yang tidak mau main-main, Indonesia tampaknya sedang mencoba membalik halaman itu—dengan tenggat waktu yang dipersempit menjadi dua tahun.
FAQ
Mengapa sektor gula Indonesia disebut dalam kondisi kritis?
Presiden Prabowo mengungkapkan bahwa selama 12 tahun tidak ada peremajaan tanaman tebu secara sistematis di Indonesia, yang menyebabkan produktivitas gula nasional stagnan dan negara masih bergantung pada impor.
Apa target pemerintah untuk membenahi perkebunan tebu nasional?
Menteri Pertanian Amran Sulaiman menargetkan peremajaan 100.000 hektar tebu per tahun, dengan janji kepada Presiden Prabowo bahwa seluruh program bisa tuntas dalam dua tahun.
Apa hubungan program gula ini dengan visi swasembada pangan Prabowo?
Program peremajaan tebu adalah bagian dari agenda besar swasembada pangan, yang juga mencakup swasembada energi melalui B50 dan rencana pengembangan etanol hingga E20 dengan pembangunan minimal 30 pabrik baru.



Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.