Namun Bahtra dengan cepat menambahkan kalimat yang terasa seperti sindirian terselubung: Gerindra belum mau larut dalam diskusi Pilpres 2029. Fokus mereka saat ini adalah mengawal program prioritas Presiden Prabowo dan memastikan janji-janji kampanye 2024 bisa ditunaikan. “Pemilu 2029 masih jauh,” kata Bahtra, dengan nada yang seolah ingin mengingatkan semua pihak agar tidak terlalu bersemangat.
Tentu saja, pernyataan bahwa “Pemilu masih jauh” adalah kalimat klasik yang selalu muncul persis ketika semua orang mulai membicarakan pemilu. Semacam tradisi politik yang terus berulang, seperti musim hujan di November.
Sementara itu, di markas Demokrat, Sekretaris Jenderal Herman Khaeron sudah bersiap dengan jawaban. Ia menyebut tafsir bahwa pidato AHY merupakan sinyal pencalonan di Pilpres 2029 sebagai sesuatu yang berlebihan. Pidato itu, kata Herman, harus dibaca dalam konteks yang benar: refleksi atas 25 tahun perjalanan Partai Demokrat, renungan soal demokrasi, dan pengingat bagi seluruh kader tentang tanggung jawab mereka kepada rakyat. Bukan lebih, bukan kurang.
Herman juga menegaskan bahwa AHY tetap solid mendukung pemerintahan Prabowo dan seluruh program prioritasnya. Tidak ada konflik kepentingan, tidak ada manuver diam-diam, tidak ada agenda tersembunyi — begitu Demokrat ingin cerita ini dibaca.
Sayangnya, politik tidak selalu bisa dikendalikan oleh siaran pers.


Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.