PUNGGAWANEWS – Indonesia mencatatkan sebuah pencapaian yang layak disebut historis. Stok beras nasional per April 2026 menembus angka 5.000.198 ton, sebuah lonjakan dramatis dari kondisi 2024 ketika negeri ini masih mengimpor hingga 4,5 juta ton. Lebih jauh, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengambil langkah berani: membuka keran ekspor beras ke pasar internasional. Tapi di balik angka yang membanggakan itu, pertanyaan mendasar menanti jawaban.
Transformasi ini bukan kebetulan. Kombinasi kebijakan intensifikasi pertanian, optimalisasi lahan, distribusi pupuk yang lebih tertib, serta penguatan peran Perum BULOG menjadi fondasi di balik lonjakan stok yang signifikan ini. Pemerintah memang tidak bekerja dalam semalam.
Ekspor perdana sebanyak 2.280 ton beras premium ke Arab Saudi menjadi penanda penting. Arab Saudi, dengan kebutuhan khusus untuk jutaan jemaah haji dan umrah setiap tahunnya, adalah pasar yang strategis sekaligus prestisius. Indonesia kini bicara di forum yang berbeda.
Namun ekspor bukanlah tujuan utama. Ia hanyalah konsekuensi logis dari kelebihan produksi. Tujuan sesungguhnya tetap satu: menjamin ketersediaan, keterjangkauan, dan stabilitas harga beras bagi seluruh rakyat Indonesia.



Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.