Di balik angka-angka makro, realitas lapangan tetap kompleks. Petani masih bergulat dengan persoalan klasik: harga gabah yang fluktuatif, akses pupuk yang tidak selalu mudah, dan biaya produksi yang terus merangkak naik. Jika swasembada tidak diiringi peningkatan nyata kesejahteraan petani, maka ia hanya akan menjadi prestasi semu yang terlihat indah di atas kertas.
Negara tidak cukup hanya mengejar angka produksi. Kualitas hidup petani sebagai tulang punggung sistem pangan nasional harus menjadi perhatian yang setara.
Dalam konteks ekspor, langkah pemerintah membidik pasar Papua Nugini, Malaysia, dan Filipina menawarkan peluang nyata. Namun pasar global adalah arena yang keras: kualitas, harga, dan konsistensi pasokan menjadi penentu utama. Indonesia harus waspada agar euforia ekspor tidak berbalik menjadi bumerang ketika produksi domestik suatu saat mengalami tekanan.
Apa yang dilakukan Menteri Sulaiman adalah langkah progresif yang patut diapresiasi. Namun keberhasilan ini tidak boleh berhenti pada angka. Yang jauh lebih menentukan adalah bagaimana menjaga momentum ini dengan integritas, konsistensi kebijakan, dan kejujuran data yang tidak tergoda kepentingan jangka pendek.



Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.