Dalam tata kelola pangan, kesalahan data bisa berakibat fatal. Overestimasi produksi bisa membuat pemerintah terlalu percaya diri membuka ekspor besar-besaran, sementara pasokan dalam negeri sejatinya masih rawan. Sebaliknya, underestimasi bisa memicu impor yang tidak perlu, merugikan petani lokal sekaligus membuang devisa.
Persoalan ini bukan baru. Selama bertahun-tahun, perbedaan data antarkementerian, lemahnya sistem pencatatan produksi, dan keterbatasan teknologi pemantauan telah berulang kali melahirkan kebijakan yang tidak tepat sasaran.
Di era digital ini, hambatan semacam itu seharusnya bisa diminimalisir. Teknologi citra satelit, big data pertanian, dan integrasi sistem informasi lintas lembaga harus menjadi prioritas, bukan sekadar wacana. Transparansi data adalah kunci kepercayaan publik.
Karena itulah, prinsip “jangan main-main dengan data” bukan retorika. Ini adalah fondasi dari tata kelola pangan yang sehat dan bertanggung jawab.



Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.