Istilah swasembada sering dipahami secara sempit, seolah cukup dimaknai sebagai kondisi tanpa impor. Padahal dalam kebijakan pangan modern, swasembada adalah proses berkelanjutan yang menuntut stabilitas jangka panjang, bukan sekadar puncak sesaat yang kemudian pudar.
Sejarah mencatat peringatan keras. Indonesia pernah merayakan swasembada beras di era 1980-an, namun euforia itu tidak bertahan lama. Perubahan iklim, alih fungsi lahan pertanian, pertumbuhan penduduk yang pesat, dan lemahnya tata kelola data menjadi penyebab runtuhnya fondasi yang dikira kokoh itu.
Maka keberhasilan hari ini harus dibaca dengan kepala dingin. Apakah stok 5 juta ton itu benar-benar mencerminkan kondisi riil di lapangan? Apakah distribusi berjalan merata hingga ke pelosok? Apakah petani benar-benar menikmati harga yang layak dan adil?
Pertanyaan-pertanyaan ini bukan bentuk keraguan, melainkan pengawasan yang sehat agar kebijakan tidak berjalan di atas optimisme semata.



Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.