Dedi menyoroti kelemahan mendasar dalam proses pembangunan sumber daya manusia yang sering diabaikan: kecepatan versus kualitas. Menurutnya, kualitas SDM tidak bisa dibangun secara instan, sebagaimana membalik telapak tangan.
“Proses dapat kita rancang, tetapi kualitas hasil tidak bisa direkayasa. Yang dapat kita kendalikan adalah kualitas hati, niat, dan ikhtiar, sedangkan hasil akhirnya merupakan ketetapan Allah SWT,” kata Dedi dengan nada reflektif.
Kalimat itu mencerminkan pendekatan yang berbeda dari kebanyakan institusi. Polri tidak hanya memandang pendidikan sebagai transfer pengetahuan, tetapi sebagai proses pembentukan manusia seutuhnya—yang sadar akan keterbatasan dirinya di hadapan Yang Maha Kuasa.
Karena itu, Polri berkomitmen agar pendidikan kepolisian memadukan tiga kecerdasan sekaligus: intelektual, emosional, dan spiritual. Ketiganya dianggap sebagai satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan dalam membentuk aparat penegak hukum yang sejati.
Masjid Panggilan Sujud dipilih bukan tanpa alasan filosofis. Nama itu sendiri mengandung pesan mendalam yang diungkap langsung oleh Wakapolri dalam sambutannya.



Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.