Summarize the post with AI
MADINAH, PUNGGAWANEWS — Siapa sangka, di jantung Tanah Haram, tempe justru menjadi menu yang paling ditunggu-tunggu oleh jutaan jemaah haji Indonesia. Bukan sekadar lauk, tempe hadir sebagai pengobat rindu tanah air di tengah rangkaian ibadah yang menyita tenaga dan pikiran.
Tahun ini, pemerintah Indonesia memastikan seluruh jemaah yang berada di wilayah kerja Madinah mendapat 27 kali makan selama masa tinggal sembilan hari — atau tiga kali sehari tanpa jeda. Seluruh sajian dirancang dengan cita rasa nusantara, menggunakan bumbu rempah asli Indonesia yang dikirim langsung dari tanah air.
“Insya Allah tahun ini jemaah akan mendapatkan menu dengan cita rasa Indonesia. Sebab salah satunya, bumbu yang digunakan tahun ini merupakan bumbu rempah penuh yang berasal dari Indonesia.”
— Pejabat Daker Madinah, Kementerian Haji dan Umroh RI
Kementerian Haji dan Umrah Arab Saudi telah menetapkan 23 dapur katering untuk melayani kebutuhan pangan jemaah Indonesia di Madinah. Pemilihan dapur-dapur ini bukan perkara mudah — seluruhnya melalui proses seleksi ketat yang diawasi langsung oleh pemerintah Indonesia, dengan standar mutu yang tak bisa ditawar.
Salah satu syarat utama, setiap dapur wajib memiliki minimal dua juru masak utama dan empat asisten koki, yang kesemuanya harus berkewarganegaraan Indonesia. Kebijakan ini disengaja agar teknik memasak dan cita rasa yang tersaji benar-benar mewakili selera jemaah, bukan sekadar imitasi masakan lokal Arab.
Tempe dijadwalkan hadir di meja makan jemaah hingga lima kali dalam sepekan — frekuensi tertinggi di antara semua lauk yang tersedia. Di sampingnya, tersaji pula rendang sapi, ayam berbumbu, serta aneka hidangan khas dari berbagai penjuru Nusantara, Kalimantan, Sulawesi, Jawa, hingga Sunda.
Keanekaragaman menu ini sengaja dirancang agar semua jemaah, dari mana pun asalnya, bisa menemukan sajian yang akrab di lidah mereka.
Mengingat proporsi jemaah lanjut usia yang cukup besar, pengelola katering juga menyediakan menu khusus lansia yang bisa dipesan sesuai kebutuhan. Pada prinsipnya komposisi lauk tetap sama, namun teksturnya disesuaikan — nasi dapat diubah menjadi bubur, sayuran dan lauk diolah lebih lunak agar mudah dicerna.
Pemerintah tidak berhenti pada urusan rasa dan variasi. Keamanan pangan menjadi prioritas yang dijaga berlapis. Setiap sampel makanan melewati tiga titik pemeriksaan: di dapur produksi untuk mengecek mutu bahan baku, di Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) untuk uji medis, dan di sektor penginapan jemaah oleh petugas layanan pangan setempat.
Setiap hotel pun memiliki petugas pangan tersendiri yang berjaga memastikan makanan yang tiba di tangan jemaah layak dan aman dikonsumsi.
Laporan ini disusun berdasarkan kunjungan ke Dapur Daker Madinah dan wawancara dengan pejabat penyelenggara haji Indonesia musim haji 1447 H/2026 M.



Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.