BANDUNG, PUNGGAWANEWS – Hasil survei Lembaga Survei Indonesia (LSI) mencatat angka yang mengejutkan: tingkat kepuasan publik terhadap kinerja Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menembus 95,4 persen. Namun alih-alih bersikap bangga, Dedi justru merespons dengan rendah hati—dan pernyataannya langsung menjadi perhatian publik.

“Kemarin LSI 95 persen, tapi bukan saya yang bekerja. Yang bekerja adalah aparatur pemerintah provinsi, kabupaten, kota, hingga RT RW, kepala desa, camat, dan seluruh warga,” ujar Dedi Mulyadi menanggapi rilis survei tersebut.

Dedi menegaskan bahwa hasil itu bukan cerminan prestasinya semata. Ia menyebut survei itu sebagai penilaian publik atas kinerja pembangunan Jawa Barat secara keseluruhan, bukan ukuran popularitas pribadi seorang gubernur.

Pernyataan itu disampaikan setelah LSI merilis hasil survei terbaru yang mengukur kepuasan masyarakat Jawa Barat terhadap kepemimpinan Kang Dedi—sapaan akrab KDM—sejak ia menjabat sebagai gubernur. Survei ini dilakukan di seluruh wilayah Jawa Barat dengan melibatkan ribuan responden dari berbagai latar belakang.

Direktur Eksekutif LSI Jayadi Hanan mengungkapkan rincian angkanya. Sebanyak 39,3 persen responden menyatakan sangat puas dengan kinerja Dedi Mulyadi, sementara 56,1 persen menyatakan cukup puas. Gabungan keduanya menghasilkan angka kepuasan total sebesar 95,4 persen.

Di sisi lain, hanya 3,3 persen responden yang menyatakan tidak puas, dan 0,5 persen menyatakan sangat tidak puas. Sebanyak 0,8 persen sisanya tidak memberikan jawaban atau menjawab tidak tahu. LSI pun menyimpulkan bahwa angka ketidakpuasan publik terhadap Gubernur Jabar hanya berada di angka 3,8 persen—jauh di bawah tingkat kepuasan.

Survei ini tidak hanya mengukur kepuasan terhadap kepala daerah. LSI juga memetakan persepsi masyarakat atas kondisi ekonomi dan tata kelola pemerintahan di Jawa Barat.

Hasilnya, 44,3 persen responden menilai kondisi ekonomi Jawa Barat berada di kategori sedang. Penilaian antara kondisi ekonomi yang baik dan buruk pun relatif berimbang, menunjukkan bahwa sektor ekonomi masih menjadi tantangan utama yang dirasakan masyarakat.

Soal tata kelola pemerintahan, gambarannya lebih positif. Sebanyak 60,2 persen responden menilai pemerintahan Provinsi Jawa Barat berjalan dengan baik hingga sangat baik. Sementara 30,4 persen menilainya biasa saja, dan hanya 8,1 persen yang memberikan penilaian buruk hingga sangat buruk.

LSI juga mencatat bahwa seluruh sektor yang diukur mendapat penilaian positif dari publik. Sektor pembangunan infrastruktur dan layanan dasar menjadi yang paling diapresiasi. Adapun sektor ekonomi masih dianggap sebagai pekerjaan rumah terbesar bagi pemerintah daerah.

Dedi mengakui pencapaian itu sebagai bukti bahwa pembangunan di Jawa Barat berjalan cukup baik berkat kerja kolektif seluruh elemen masyarakat. “Itu bukan saya. Itu bukan pekerjaan saya. Itu adalah kerja orang Jawa Barat,” katanya tegas.

Di luar angka kepuasan, para pengamat politik mulai membaca potensi besar KDM untuk panggung nasional. Dengan basis massa terbesar di Indonesia, Jawa Barat menjadi lumbung suara yang diperhitungkan dalam peta politik ke depan.

Seorang analis politik menyebut KDM sebagai figur yang dalam tanda kutip sangat sulit dikalahkan oleh kompetitor lain dalam Pilkada Jawa Barat berikutnya. Angka kepuasan setinggi itu, ditambah profil yang kuat di mata publik dan netizen, menjadikannya kandidat potensial di level nasional.

Namun para pengamat juga memberikan catatan penting. Tingginya angka kepuasan berpotensi membuat seorang pemimpin terlena—terlalu percaya diri hingga mengabaikan suara-suara kecil yang seharusnya tetap didengar.

“Masalah tidak bisa dilihat hanya dari sisi makro. Kita juga harus melihat sisi kualitatif, sisi parsial, sisi kecil,” kata salah satu pengamat yang diwawancarai. Ia menyarankan agar KDM lebih membuka telinga terhadap kelompok-kelompok yang secara politik mungkin dianggap kecil, termasuk fraksi-fraksi minoritas di DPRD.

Setiap suara, sekecil apapun, semestinya menjadi bahan pertimbangan seorang pemimpin. Demikian prinsip yang ditekankan para analis sebagai kunci agar angka kepuasan tinggi tidak berubah menjadi jebakan.

Jawa Barat, dengan jumlah Daftar Pemilih Tetap (DPT) tertinggi di Indonesia, memiliki bobot politik yang tidak bisa diabaikan. Dalam dua tahun ke depan menjelang pemilihan berikutnya, modal politik KDM dinilai sangat kuat—asalkan ia tetap responsif, rendah hati, dan terus menyerap aspirasi dari bawah.

Para pengamat menilai, dengan persentase kepuasan di atas 90 persen, KDM sebenarnya cukup mengikuti ritme yang sudah berjalan. Catatan pentingnya: tetap mendengar, tetap responsif, dan tidak menutup telinga terhadap suara yang mungkin tidak sejalan dengan arah politiknya.

FAQ

Apa yang dimaksud dengan survei kepuasan kinerja Gubernur Jawa Barat oleh LSI?

Survei ini adalah pengukuran yang dilakukan Lembaga Survei Indonesia (LSI) untuk mengetahui sejauh mana masyarakat Jawa Barat merasa puas dengan kinerja pemerintahan di bawah kepemimpinan Gubernur Dedi Mulyadi, mencakup aspek infrastruktur, layanan dasar, ekonomi, dan tata kelola pemerintahan.

Mengapa Dedi Mulyadi tidak mengklaim hasil survei 95,4 persen sebagai prestasinya sendiri?

Dedi Mulyadi menilai pencapaian itu adalah buah kerja kolektif seluruh aparatur pemerintah dari tingkat provinsi hingga RT/RW, serta seluruh warga Jawa Barat. Ia menegaskan bahwa survei tersebut bukan penilaian atas dirinya secara pribadi, melainkan atas kinerja pembangunan Jawa Barat secara menyeluruh.

Apakah hasil survei ini berdampak pada peluang politik KDM di tingkat nasional?

Para analis menilai angka kepuasan setinggi itu merupakan modal politik yang sangat besar, baik untuk periode kedua sebagai gubernur maupun untuk melangkah ke panggung nasional. Namun mereka mengingatkan agar KDM tidak terlena dan tetap membuka diri terhadap kritik dan suara minoritas.



Follow Widget