Proses pembelajaran didukung oleh hampir 5.000 guru, sekitar 7.000 wali asuh, dan lebih dari 2.000 wali asrama. Mereka tidak hanya bertugas mengajar, tetapi juga mendampingi perkembangan karakter, kepercayaan diri, dan kesehatan fisik para siswa.
“Mereka bukan sekadar pendidik dan pengasuh. Mereka adalah ayah dan ibu kedua bagi anak-anak,” ujar Gus Ipul saat memberikan penghargaan kepada para tenaga pendidik Sekolah Rakyat.
Dari sisi infrastruktur, Kemensos melaporkan 100 titik Sekolah Rakyat permanen telah dibangun, dengan 93 di antaranya sudah beroperasi dan tujuh sisanya masih dalam tahap penyelesaian. Ditambah 82 sekolah rintisan, total ada 182 titik layanan yang saat ini aktif melayani sekitar 44 ribu siswa dari berbagai wilayah Indonesia.
Meski baru melewati tahun pertama, capaian akademik dan nonakademik para siswa sudah terasa. Data Kemensos mencatat 11 prestasi di tingkat internasional, lebih dari 200 prestasi nasional, serta lebih dari 1.100 siswa yang berprestasi di bidang , seni, dan sains. Angka ini menjadi sinyal awal bahwa program ini bukan hanya berhasil memasukkan anak ke sekolah, tetapi juga membantu mereka dan bersaing.
Semangat itu terlihat nyata dalam penampilan 741 siswa yang hadir dari berbagai penjuru Indonesia. Di panggung GOR Sudiang, mereka menampilkan tarian tradisional dari Aceh, Sulawesi, Papua, hingga Nusa Tenggara Timur. Ada pula pertunjukan karate, pencak silat, pramuka, baris variasi, drama teatrikal, pembacaan puisi, dan paduan suara yang menyanyikan lagu serta membacakan teks Sumpah Pemuda.




Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.