Gagasan di balik Sekolah Rakyat berakar dari keprihatinan Presiden Prabowo soal kemiskinan yang turun-temurun. Gus Ipul menyampaikan kembali pesan Presiden dengan lugas bahwa anak-anak dari keluarga kurang mampu seharusnya punya kesempatan yang sama untuk meraih masa depan berbeda dari orang tua mereka.
“Kalau bapaknya pemulung, anaknya tidak boleh jadi pemulung. Kalau bapaknya tukang becak, anaknya tidak perlu harus jadi tukang becak,” tegas Gus Ipul.
Yang membedakan Sekolah Rakyat dari sekolah pada umumnya terletak pada cara menjangkau siswanya. Program ini tidak menunggu pendaftaran dari masyarakat, melainkan mendatangi langsung keluarga yang membutuhkan. Para pendamping sosial bergerak ke 497 kabupaten dan kota di seluruh Indonesia untuk menemukan anak-anak usia sekolah yang terhambat mengakses pendidikan karena keterbatasan ekonomi.
Hasilnya mengejutkan. Kemensos menemukan lebih dari 180 ribu anak usia sekolah yang sudah bekerja demi membantu ekonomi keluarga. Angka ini memperlihatkan bahwa persoalan putus sekolah di Indonesia jauh lebih dalam dari sekadar kurangnya fasilitas, melainkan soal keterpaksaan hidup yang memaksa anak ikut mencari nafkah sejak dini.
Sebelum memulai proses belajar, setiap siswa Sekolah Rakyat menjalani serangkaian tahapan penerimaan yang tidak lazim dijumpai di sekolah konvensional. Pemeriksaan kesehatan, pemulihan psikologis, matrikulasi, hingga pemetaan bakat melalui program Talent DNA menjadi bagian dari proses awal. Dari 11 ribu anak yang telah dipetakan, empat dari setiap sepuluh di antaranya menunjukkan bakat kuat di bidang sains dan teknologi.




Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.