Ketika fitnah dan pengaduan dari sebagian rakyat Kufah sampai ke Madinah, Umar memanggilnya untuk diperiksa. Sa’ad datang dengan kepala tegak dan hati tenang. Semua tuduhan terbukti tidak berdasar. Salah seorang penuduh utamanya bahkan dikabarkan kemudian ditimpa kemalangan hidup yang berat — sebuah kejadian yang dihubungkan dengan doa Sa’ad yang dikenal selalu dikabulkan.
Rasulullah sendiri pernah berdoa secara khusus agar doa Sa’ad senantiasa dikabulkan Allah.
Diam di Tengah Badai Fitnah
Ketika umat Islam terpecah pasca wafatnya Khalifah Utsman bin Affan, dan perang saudara meletus antara kubu Ali bin Abi Thalib dan Muawiyah, Sa’ad memilih jalan yang tidak populer: diam dan netral. Ketika didesak untuk ikut berperang, ia berkata bahwa ia membutuhkan pedang yang mampu membedakan mana yang benar dan mana yang salah — karena tanpa itu, ia tidak mau ambil bagian dalam pertumpahan darah sesama Muslim.
Baginya, menjaga persatuan umat lebih utama daripada memenangkan perdebatan politik. Di saat banyak orang berteriak dalam amarah, Sa’ad memilih diam dalam hikmah.





















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.