Perisai di Badar dan Uhud

Dalam Perang Badar, pertempuran terbuka pertama kaum Muslim melawan Quraisy dengan perbandingan kekuatan 313 berbanding lebih dari seribu orang, Sa’ad ditempatkan di barisan pemanah. Keahliannya yang telah terasah sejak masa jahiliah kini ia gunakan bukan lagi untuk kehormatan kabilah, melainkan untuk membela kalimat tauhid.

Rasulullah sendiri disebut pernah memungut anak panah dan menyerahkannya langsung kepada Sa’ad seraya berseru agar Sa’ad terus memanah, dengan menyebut demi ayah dan ibunya — sebuah ungkapan tertinggi penghargaan yang dalam seluruh sejarah kenabian hanya diucapkan Rasulullah kepada segelintir orang.

Di Perang Uhud, ketika pasukan Muslim kocar-kacir akibat serangan balik Quraisy dan Rasulullah terluka, Sa’ad termasuk sahabat setia yang bertahan mengelilingi Nabi. Ia dikisahkan menghabiskan lebih dari seratus anak panah dalam satu hari tanpa henti.

Penaklukan Makkah: Kemenangan Tanpa Dendam

Pada tahun kedelapan Hijriah, Sa’ad menjadi bagian dari pasukan besar yang memasuki kembali Makkah. Kota yang dulu mengusir dan menyiksa kaum Muslim kini terbuka tanpa pertempuran besar. Sa’ad tidak mendekati momen itu dengan dendam. Baginya, kemenangan Islam bukan untuk membalas, melainkan untuk membebaskan manusia dari penghambaan kepada sesama makhluk menuju penghambaan kepada Allah semata.



Follow Widget