Sebelum perang meletus, Sa’ad mengirim utusan kepada Rustum untuk menawarkan Islam. Pesannya bukan ancaman militer, melainkan undangan: bahwa misi mereka adalah mengeluarkan manusia dari penghambaan kepada sesama menuju penghambaan kepada Allah. Rustum menolak. Maka perang pun tak terelakkan.

Pada hari keempat, pertahanan Persia runtuh. Rustum terbunuh. Pasukan Sa’ad merebut gerbang menuju ibu kota Kekaisaran Persia, Madain — kota yang selama berabad-abad dianggap tak tertaklukkan. Sa’ad kemudian memimpin pasukannya menyeberangi Sungai Tigris yang sedang meluap, dan mereka memasuki istana megah Kisra bukan sebagai penakluk yang rakus, melainkan sebagai pembawa risalah yang bersujud syukur.

Sa’ad mengelola harta rampasan perang dengan kejujuran yang sampai membuat Khalifah Umar mengirim penyelidik untuk memverifikasi. Hasilnya: Sa’ad bersih dan amanah.

Gubernur yang Menolak Kemewahan

Diangkat sebagai Gubernur Kufah, Sa’ad tetap hidup sederhana. Ia tidak membangun istana, tidak mengambil lebih dari haknya dari Baitul Mal. Ketika ditanya alasannya, ia menjawab bahwa ia tidak ingin memakan sesuatu yang kelak memberatkan hisabnya di akhirat.



Follow Widget