Pernyataan itu bukan hal baru dari Prabowo. Dalam berbagai forum internasional sebelumnya, Presiden ke-8 RI ini sudah berulang kali menegaskan pentingnya solusi tersebut — sebuah kerangka yang memungkinkan berdirinya negara Palestina merdeka yang berdaulat penuh, berdampingan secara damai dengan Israel.

Sikap Indonesia ini berakar jauh ke belakang. Sejak hari-hari awal kemerdekaan, Indonesia telah menempatkan Palestina sebagai sahabat dekat yang diikat oleh pertalian historis dan emosional. Di berbagai panggung internasional — dari sidang Majelis Umum PBB hingga forum-forum multilateral — Indonesia konsisten mendorong terwujudnya perdamaian yang adil dan bermartabat bagi rakyat Palestina.

Hubungan Prabowo dan Abbas sendiri terbilang erat dan hangat, melampaui sekadar protokol diplomatik. Keduanya menjalin komunikasi yang intens dan penuh keakraban. Salah satu momen yang paling menggambarkan kedekatan ini terjadi pada perayaan Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah, ketika Prabowo secara langsung menelepon Abbas untuk menyampaikan ucapan selamat hari raya.

Komunikasi di hari raya itu bukan sekadar gestur simbolis. Ia merupakan bagian dari rangkaian silaturahmi Prabowo kepada para pemimpin negara sahabat, sekaligus upaya nyata untuk terus mempererat hubungan bilateral Indonesia dan Palestina di tengah situasi Timur Tengah yang masih bergejolak.

Percakapan telepon pada 15 Juni 2026 itu pun berlangsung dalam konteks yang berat. Situasi terkini di Timur Tengah menjadi salah satu pokok bahasan utama kedua kepala negara. Tanpa menyebut detail pembicaraan secara spesifik, Prabowo memilih menyampaikan pesan yang jelas dan tegas kepada publik: Indonesia berdiri di sisi Palestina, dan posisi itu tidak akan berubah.



Follow Widget