Ia bahkan menggunakan perhitungan sederhana yang mudah dicerna: anak usia 10 tahun yang kini duduk di bangku sekolah dasar, 25 tahun ke depan akan berada di pundak mereka tanggung jawab memimpin negeri. Jika hari ini mereka diabaikan — gizi buruk, putus sekolah, miskin — maka mimpi menjadi negara keempat terbesar di dunia tinggal angan-angan.
“Jadi kalau kita sekarang tidak urus anak-anak itu, dia bagaimana akan menjadi negara keempat terbesar di dunia?” tanya Prabowo, retoris.
Di sinilah Prabowo memperkenalkan sebuah reframing penting tentang makna pertahanan nasional. Selama ini, pertahanan identik dengan alutsista, perbatasan, dan kekuatan militer. Namun di hadapan petani Malang, ia menawarkan definisi yang berbeda: pertahanan sejati adalah rakyat yang kuat, sehat, dan sejahtera.
“Pertahanan terbaik adalah rakyat yang kuat dan sejahtera. Kalau ada yang macam-macam sama bangsa Indonesia, seluruh rakyat akan membela bangsa ini,” tegasnya.
Filosofi itu bukan sekadar kata-kata. Prabowo mengungkapkan kebahagiaannya melihat TNI dan Polri yang turun langsung ke tengah masyarakat — membangun jembatan, membuka titik air bersih, dan hadir di sisi petani serta nelayan. Ia menyebut hal itu sebagai wujud nyata dari konsep pertahanan berbasis rakyat.



Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.