Ambisi itu mencerminkan kesadaran bahwa transformasi pendidikan tidak bisa hanya bertumpu pada perangkat teknologi. Gedung yang layak, ruang kelas yang kondusif, dan ekosistem belajar yang mendukung tetap menjadi prasyarat dasar yang tidak bisa diabaikan.
Pemerintah tampaknya menyadari bahwa digitalisasi tanpa pemerataan fisik hanya akan memperlebar jurang ketimpangan. Karena itu, dua agenda ini—renovasi sekolah dan perluasan infrastruktur digital—dijalankan secara bersamaan sebagai satu paket kebijakan yang saling menopang.
Bagi jutaan anak Indonesia yang selama ini belajar di ruang kelas reyot dengan buku teks usang, perubahan ini terasa nyata. Sebuah layar pintar di sudut kelas yang terhubung ke ribuan konten pembelajaran gratis bisa menjadi jendela dunia yang sebelumnya tak pernah terbayangkan.
Presiden Prabowo menegaskan bahwa semua langkah ini bermuara pada satu tujuan: memastikan setiap anak Indonesia, di mana pun ia berada, mendapat kesempatan yang sama untuk mengakses pendidikan berkualitas. Bukan sebagai privilese, melainkan sebagai hak.
Di panggung global, Indonesia kini tidak lagi sekadar berbicara tentang niat. Penghargaan dari PBB menjadi sinyal bahwa transformasi itu sedang benar-benar terjadi—pelan namun pasti, dan kini mulai berlari.



Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.