Prabowo menyadari kondisi ini tidak bisa dibiarkan. Dalam arahannya, ia mendorong pemerintah untuk memperkuat pasokan bahan baku bagi industri TPT agar proses produksi tidak terganggu oleh ketergantungan impor bahan mentah yang fluktuatif harganya.
Penertiban impor yang dinilai merugikan industri dalam negeri juga masuk dalam agenda. Pemerintah didorong untuk lebih tegas dalam menerapkan aturan perdagangan, termasuk menutup celah masuknya produk-produk tekstil ilegal yang selama ini menggerus pasar lokal.
Di sisi lain, dukungan terhadap industri TPT yang berorientasi ekspor menjadi prioritas tersendiri. Langkah ini sejalan dengan strategi besar pemerintah untuk meningkatkan nilai ekspor non-migas dan memperluas pangsa pasar Indonesia di kancah internasional.
Dua agenda besar ini, yakni percepatan IEU-CEPA dan penguatan tekstil nasional, sebenarnya saling berkaitan erat. Jika IEU-CEPA berhasil diratifikasi, produk tekstil Indonesia berpotensi menikmati tarif preferensial saat masuk ke pasar Eropa, sehingga daya saingnya langsung meningkat.
Pemerintah tampaknya memang sedang menyusun strategi ekspor yang lebih agresif. Di tengah ketidakpastian ekonomi global dan tekanan dari berbagai mitra dagang besar, Indonesia mencoba mengunci posisi yang lebih kuat melalui perjanjian bilateral maupun regional.


Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.