Inilah yang membuat Pramuka berbeda dari ruang kelas biasa. Setiap kegiatan, setiap tugas, setiap tantangan yang dihadapi di jambore adalah simulasi kehidupan nyata. Dan di sinilah karakter sejati seorang pemimpin ditempa.
Kepada para Pramuka putri, Jihan Nurlela menyampaikan pesan yang lebih personal. Ia mengajak mereka untuk tidak menjadikan identitas sebagai perempuan sebagai batas dalam bermimpi dan mengambil peran. Terlalu lama narasi yang beredar membuat perempuan bertanya-tanya apakah mereka layak memimpin. Jihan ingin narasi itu dibalik.
“Yang terpenting bukan bertanya ‘apakah saya bisa?'” ungkap Jihan dalam pesan yang ia sampaikan kepada kontingen. Pertanyaan yang lebih tepat adalah memastikan diri sudah cukup belajar dan mempersiapkan diri untuk menjawab kesempatan yang datang.
Pesan ini terasa relevan di tengah kondisi bangsa yang tengah mendorong peningkatan keterwakilan perempuan di berbagai sektor. Data menunjukkan bahwa partisipasi perempuan dalam kepemimpinan publik di Indonesia masih perlu terus ditingkatkan. Dalam konteks itulah suara seperti Jihan menjadi penting, terutama ketika disampaikan kepada generasi muda yang sedang membentuk identitas dan nilai-nilai mereka.
Jambore Nasional XII 2026 yang digelar di Buperta Cibubur bukan hanya ajang berkumpulnya puluhan ribu Pramuka dari seluruh penjuru Indonesia. Ia adalah momentum pembentukan karakter generasi penerus bangsa. Ribuan anak muda dengan seragam cokelat hijau itu adalah masa depan Indonesia yang sedang ditempa hari ini.
Kontingen Lampung yang hadir membawa lebih dari sekadar kebanggaan daerah. Mereka membawa semangat yang disulut oleh pemimpin mereka sendiri. Wagub Jihan tidak hanya bicara tentang kepemimpinan, ia menunjukkannya secara langsung dengan hadir, berinteraksi, dan menyapa para Pramuka muda itu dari dekat.


Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.