Dua kelompok mendapat perhatian khusus dalam kerangka ini: remaja dan lansia. Remaja dinilai menghadapi tekanan yang kian berat, termasuk dalam hal kesehatan mental. Untuk itu, pemerintah menghadirkan layanan konseling agar mereka punya ruang berbagi dan mendapatkan solusi tanpa merasa sendirian.
Sementara itu, lansia tak hanya dilihat sebagai beban demografis, melainkan sebagai potensi yang harus dijaga produktivitasnya. Isyana menyebutnya sebagai bagian dari “bonus demografi kedua”—sebuah perspektif yang memandang panjang usia harapan hidup sebagai aset, bukan sekadar statistik.
“Kita juga harus memastikan lansia tetap berdaya dan produktif, karena ini menjadi bagian dari yang kita sebut sebagai bonus demografi kedua,” pungkas Isyana.
Di tengah persaingan global yang makin ketat, Indonesia tampaknya telah meletakkan taruhannya: kemenangan ditentukan bukan oleh kekuatan militer atau kekayaan alam semata, melainkan oleh kualitas manusianya—dan perempuan ada di garis terdepan perjuangan itu.



Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.