Di sisi irigasi, kondisi jaringan yang rusak di berbagai wilayah Sulsel telah memangkas produktivitas pertanian secara signifikan. Air yang dilepas dari hulu tidak sampai penuh ke hilir karena saluran bocor di mana-mana. Petani di Pangkep, misalnya, mengeluhkan hasil panen yang terus merosot akibat debit air yang tak pernah cukup.
Program rehabilitasi irigasi dikemas dalam empat paket yang mencakup wilayah selatan, utara, dan timur Sulsel. Total anggaran yang dialokasikan mencapai Rp500 miliar dari pagu Rp780 miliar—lebih efisien dari perkiraan awal karena sistem pengemasan paket yang terintegrasi. Dengan efisiensi itu, masih ada sisa anggaran sekitar Rp200 miliar yang bisa digunakan untuk perluasan jaringan baru.
Target konkretnya: 54.000 hektare lahan pertanian mendapat pasokan air yang memadai. Jika berhasil, Indeks Pertanaman (IP) bisa didorong dari IP200 menjadi IP300—artinya petani bisa panen tiga kali setahun, atau minimal lima kali dalam dua tahun. Lonjakan produksi dari sekitar 800 hektare bisa menembus 1.200 hektare lahan aktif.
Gubernur juga menegaskan bahwa pemantauan kualitas pekerjaan dilakukan langsung ke lapangan, bukan sekadar dari meja laporan. Masyarakat pun didorong aktif melapor lewat media sosial jika menemukan kejanggalan dalam pelaksanaan konstruksi—sebuah mekanisme pengawasan berbasis publik yang tidak biasa.
Pilar ketiga adalah rumah sakit daerah. Setelah sebelumnya membangun RSUD di Bone untuk melayani kawasan timur (Bosowasi: Bone, Soppeng, Wajo, dan Sinjai), kini giliran wilayah selatan dan utara yang mendapat fasilitas serupa.



Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.