MAKASSAR, PUNGGAWANEWS – Sulawesi Selatan sedang bergerak. Di bawah kepemimpinan Gubernur Andi Sudirman Sulaiman, provinsi yang menjadi pintu gerbang Indonesia Timur ini menggenjot pembangunan besar-besaran lewat skema Multi-Years Project senilai Rp3,7 triliun—sebuah taruhan ambisius yang ditargetkan tuntas pada 2027.

Bukan sekadar janji kampanye. Proyek ini sudah berjalan, alat berat sudah bergerak, dan sebagian ruas jalan sudah bisa dinikmati warga. Namun pertanyaan besarnya tetap menggantung: seberapa nyata dampaknya bagi masyarakat Sulsel yang selama ini menanggung beban infrastruktur yang compang-camping?

Tiga pilar menjadi fokus utama program ini: konektivitas jalan, rehabilitasi irigasi, dan pembangunan rumah sakit daerah. Ketiganya bukan dipilih secara sembarangan. Gubernur Andi Sudirman menyebut pilihan itu lahir dari pembacaan langsung atas kebutuhan warga.

Jalan rusak telah lama menjadi musuh utama distribusi barang dan jasa di Sulawesi Selatan. Harga pangan melonjak bukan karena pasokan kurang, melainkan karena mobilitas tersumbat. Jalan adalah urat nadi, dan urat nadi itu selama bertahun-tahun tersumbat.

Pembangunan infrastruktur jalan dibagi dalam enam paket. Paket pertama mencakup 13 ruas jalan dengan total anggaran Rp430 miliar, menangani ruas-ruas kritis seperti Arupala–Arahino dan Patalassang. Per laporan terakhir, progres keseluruhan paket satu telah mencapai 18 persen, dengan satu segmen paling maju sudah di angka 14 persen.



Follow Widget