“Pramuka mengajarkan kita kemandirian dan survive. Itu yang membuat bisa seperti sekarang, bisa mengenal banyak orang dan belajar mengedepankan etika kepada kakak-kakak,” tutur Akbar kepada para peserta.
Kehadiran dua tokoh berlatar belakang Sulawesi dalam satu kunjungan ke Jamnas XII ini menjadi pesan kuat bagi generasi muda: bahwa Pramuka bukan sekadar tenda dan api unggun, melainkan sekolah kehidupan yang hasilnya bisa terasa puluhan tahun kemudian.
Sebagai bentuk apresiasi nyata, Supratman dan Akbar menyiapkan kendaraan khusus bagi Kontingen Daerah Sulawesi Tengah dan Kwarcab Soppeng untuk menikmati Jakarta. Para peserta diajak berkeliling ibu kota hingga bermain dan berwisata di kawasan Ancol—pengalaman yang tentu menjadi kenangan tak terlupakan bagi anak-anak muda dari Sulawesi.
Di sela momen kebersamaan itu, keduanya menitipkan pesan yang sederhana namun bermakna. Jaga nama baik Kwarda. Dengarkan arahan pembina. Dan percayalah bahwa Pramuka akan memberikan kebahagiaan yang mungkin belum terasa sekarang, tapi akan terbukti seiring berjalannya waktu.
Sesi kunjungan ditutup dengan tanya jawab yang hidup dan sesi foto bersama yang penuh keceriaan. Para peserta tampak berbinar mendapatkan kesempatan langka: berdialog langsung dengan dua pejabat tinggi negara yang dulu sama-sama pernah menjadi anggota Pramuka seperti mereka.



Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.