Supratman menyebut Pramuka bukan sekadar kegiatan ekstrakurikuler masa sekolah. Ia menegaskan bahwa organisasi kepramukaan adalah tempat di mana dirinya benar-benar dibentuk dan digembleng. Kemampuan membangun koneksi, menyelesaikan masalah, bergaul lintas latar belakang, hingga bertahan dalam kondisi apapun—semuanya ia timba dari pengalaman berpramuka.

“Tidak ada organisasi kepemudaan yang paling lengkap membekali kita selain kepramukaan. Semua dipelajari, organisasi yang paling paripurna dibanding yang lain. Jangan pernah tinggalkan Pramuka, kalian beruntung bergabung di Pramuka,” ujarnya di hadapan para peserta yang antusias mendengarkan.

Kalimat itu bukan sekadar basa-basi pejabat. Supratman menyampaikannya dengan nada personal dan meyakinkan, seolah sedang berbicara kepada dirinya sendiri yang dulu pernah duduk di posisi yang sama dengan para peserta di hadapannya.

Sementara itu, Akbar Supratman, yang kini menjadi anggota DPR RI dari daerah pemilihan Sulawesi Tengah, memiliki kisahnya sendiri dengan Pramuka. Ia aktif berpramuka sejak tinggal di Kota Palu dan pernah mengikuti seleksi Jambore tingkat daerah, meski kala itu belum berhasil lolos ke jenjang nasional.

Pengalaman tidak lolos seleksi itu justru menjadi pelajaran berharga. Akbar mengaku bahwa nilai-nilai kemandirian dan kemampuan bertahan yang ditanamkan Pramuka adalah fondasi yang membentuk kariernya hingga ke kursi parlemen.



Follow Widget