JAKARTA, PUNGGAWANEWS – Jutaan keluarga Indonesia mulai berkemas. Musim liburan sekolah tiba, dan di baliknya tersimpan potensi ekonomi yang tak main-main bagi para pelaku usaha kecil di berbagai daerah.
Wakil Ketua Komisi VII DPR RI Chusnunia Chalim, akrab disapa Nunik, menyoroti momentum ini sebagai kesempatan emas. Ia berharap masa libur sekolah tahun ini benar-benar dimanfaatkan untuk memperkuat sektor pariwisata nasional sekaligus menggerakkan roda ekonomi di tingkat akar rumput.
Pernyataan itu disampaikan Nunik dalam keterangannya di Jakarta, Jumat, 19 Juni 2026. Ia menjelaskan bahwa libur sekolah bukan sekadar jeda dari rutinitas belajar, melainkan salah satu siklus ekonomi pariwisata paling dinantikan sepanjang tahun.
“Liburan sekolah adalah salah satu momen paling ditunggu dalam kalender ekonomi pariwisata Indonesia, bukan hanya karena jutaan keluarga mulai merencanakan perjalanan, tapi karena dampaknya yang langsung terasa di lapisan ekonomi paling bawah,” kata legislator Fraksi PKB itu.
Komisi VII DPR RI, lanjut Nunik, telah meminta pemerintah mempersiapkan destinasi secara menyeluruh. Persiapan ini mencakup jaminan keselamatan dan kenyamanan wisatawan, sekaligus memastikan UMKM setempat ikut menikmati limpahan ekonomi dari kunjungan wisatawan.
Berbeda dengan libur nasional yang umumnya hanya berlangsung beberapa hari, masa libur sekolah punya karakter tersendiri. Durasinya jauh lebih panjang, sehingga keluarga punya waktu lebih leluasa untuk merencanakan perjalanan secara matang.
“Liburan sekolah berlangsung lebih panjang dan mendorong keluarga untuk melakukan perjalanan yang lebih terencana. Artinya, pengeluaran per perjalanan cenderung lebih besar,” ujar Nunik.
Ketua DPW PKB Lampung ini optimistis, tren liburan tahun ini akan kembali didominasi oleh domestik. Masyarakat diperkirakan lebih memilih menjelajahi destinasi dalam negeri ketimbang berlibur ke luar negeri.
Kecenderungan ini, menurut Nunik, justru menjadi kabar baik bagi pelaku UMKM dan pengusaha lokal di berbagai daerah . Semakin banyak wisatawan domestik yang bergerak, semakin besar pula peluang transaksi ekonomi yang tercipta di lapangan.
Sebagai gambaran, Nunik mengutip data pergerakan wisatawan nusantara sepanjang 2025 yang mencapai 1,2 miliar perjalanan. Angka fantastis ini menjadi bukti nyata bahwa pasar domestik adalah fondasi utama industri pariwisata Tanah Air.
Bahkan, tegas Nunik, kontribusi wisatawan nusantara ini jauh lebih signifikan ketimbang andalan dari sisi wisatawan mancanegara. Di titik inilah, menurutnya, pelaku UMKM dan pebisnis lokal dituntut jeli membaca peluang yang ada di depan mata.
“Lonjakan mobilitas tentunya tidak hanya terjadi di tempat , tetapi juga memberikan keuntungan bagi ekonomi lokal melalui bisnis , cinderamata, hingga akomodasi,” kata dia.
Tak hanya bicara soal libur sekolah, Nunik turut menyinggung momentum lain yang berpotensi mendongkrak ekonomi daerah. Ia menyebut gelaran yang berlangsung selama sebulan penuh juga berpeluang memberi dampak serupa bagi masyarakat dan perekonomian lokal.
Lebih jauh, Nunik menilai libur sekolah bukan hanya soal kuantitas kunjungan wisatawan semata. Momentum ini juga menjadi ajang pembuktian, sejauh mana kualitas pengelolaan destinasi di Indonesia sudah berjalan baik dan berkelanjutan.
Ia pun mendorong agar eksplorasi tidak melulu terpusat pada destinasi-destinasi besar yang sudah mapan. Kota-kota sekunder dengan potensi alam dan budaya otentik perlu mendapat sorotan lebih, agar manfaat ekonomi liburan tersebar lebih merata.
“Kita bersama harus secara aktif mendorong eksplorasi destinasi dekat yang tetap mampu menghadirkan pengalaman berkesan agar minat wisatawan juga menyebar ke kota-kota sekunder yang memiliki potensi alam dan budaya otentik,” tegasnya.
Dorongan ini sejalan dengan semangat pemerataan ekonomi pariwisata yang selama ini digaungkan pemerintah. Jika destinasi sekunder ikut dilirik, maka manfaat ekonomi dari libur sekolah tidak hanya dinikmati kota-kota populer, tapi juga daerah-daerah yang selama ini belum banyak terjamah.
Pada akhirnya, libur sekolah 2026 ini diharapkan menjadi lebih dari sekadar masa rehat anak-anak dari bangku sekolah. Ia bisa menjelma jadi penggerak ekonomi nyata, asalkan kesiapan destinasi, keterlibatan UMKM, dan pemerataan benar-benar dijalankan secara serius oleh semua pihak terkait.
FAQ
Mengapa libur sekolah dianggap penting bagi ekonomi pariwisata Indonesia?
Karena durasinya yang panjang membuat masyarakat merencanakan perjalanan secara lebih matang dengan pengeluaran yang lebih besar, sehingga dampaknya langsung dirasakan oleh UMKM, pelaku , dan sektor akomodasi di daerah tujuan .
Apa peran UMKM dalam momentum libur sekolah ini?
UMKM menjadi penerima manfaat langsung dari lonjakan mobilitas wisatawan, mulai dari penjualan khas daerah, cinderamata, hingga jasa penginapan, sehingga keberadaan mereka perlu didukung dan dipersiapkan secara optimal.
Mengapa domestik dinilai lebih berpengaruh dibanding wisatawan asing?
Data menunjukkan wisatawan nusantara mencatatkan 1,2 miliar perjalanan sepanjang 2025, jauh melampaui jumlah kunjungan wisatawan mancanegara, sehingga pasar domestik menjadi tulang punggung utama industri pariwisata nasional.



Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.