Summarize the post with AI

Sekembalinya dari Finlandia, Rayyan mendapat undangan berbicara di forum internasional yang diselenggarakan Kementerian Agama, membahas isu ekoteologi. Dari forum itu lahir inisiatif nyata: ia bersama rekan-rekannya mendirikan organisasi dan proyek pengolahan limbah kompos di sekolah.

Tak berhenti di peta dunia, Rayyan juga menorehkan prestasi di dalam negeri. Tiga institusi pendidikan tinggi terkemuka — ITB, ITS, dan UGM — menerimanya melalui jalur International Undergraduate Program. Di antara semua pilihan yang tersedia, hatinya condong pada University of British Columbia di Kanada, yang ia targetkan dengan dukungan beasiswa LPDP Garuda.

Namun di balik sederet pencapaian luar biasa itu, Rayyan tak pernah melupakan akar yang menopangnya. Tantangan terberat yang ia akui bukan soal akademik, melainkan soal menemukan jati diri di tengah kehidupan asrama yang jauh dari keluarga. Dalam kesunyian itu, doa dan dukungan orang tua menjadi kekuatan yang tak tergantikan.

Sang ibunda, Fitria Syahab, mengungkapkan rasa syukur yang mendalam. Ia menuturkan bahwa ketertarikan Rayyan pada dunia internasional sesungguhnya bersemi dari hal yang sangat sederhana: kegemaran membaca komik seri bertema negara-negara dunia sejak kecil. Dari halaman-halaman komik itulah tumbuh rasa ingin tahu, lalu berkembang menjadi tekad, dan akhirnya menjelma menjadi kenyataan.



Follow Widget