Jangan sampai pemerintah sibuk menjelaskan bahwa laundry itu bukan sekadar cuci baju, sementara warga masih harus menjelaskan kepada hidupnya sendiri mengapa listrik belum juga datang.

Ukuran kemajuan daerah tidak semestinya hanya diukur dari gedung pemerintahan yang terawat atau perlengkapan jamuan yang bersih. Ukuran yang lebih jujur terlihat dari rumah warga yang terang setiap malam. Dari dapur yang bisa menyimpan bahan makanan dengan layak. Dari anak-anak yang bisa belajar tanpa menunggu aki selesai dicas. Dari kampung yang tidak lagi merasa tertinggal di tanahnya sendiri.

Dikutip dari akun FB. Pecah Telur, Kutai Timur dan Kalimantan Timur punya potensi yang tidak perlu diragukan. Tapi potensi besar akan terasa hambar selama kebutuhan paling mendasar warganya masih tercecer. Pembangunan yang paling bermakna bukan yang terdengar paling megah dalam siaran pers. Pembangunan yang paling bermakna adalah yang paling terasa di rumah-rumah yang selama ini menunggu dalam gelap.

Maka kisah tentang ikan yang disimpan dengan es batu ini seharusnya menjadi pengingat. Jangan sampai daerah yang kaya sumber daya justru miskin prioritas. Jangan sampai warga terus dipuji atas ketabahan dan kreativitasnya menghadapi keterbatasan, sementara anggaran untuk kenyamanan pejabat berjalan mulus dengan justifikasi operasional yang rapi. Sebab yang dibutuhkan warga bukan pujian atas kesabaran mereka. Yang dibutuhkan adalah listrik yang benar-benar menyala, setiap malam, di setiap rumah.