Di tingkat komunitas, Kemenhut membangun sistem pertahanan berbasis masyarakat yang kini menjadi salah satu pilar penting penanganan kebakaran hutan. Sebanyak 14.040 personel Masyarakat Peduli Api tersebar di 34 provinsi dengan tugas mulai dari patroli pencegahan, edukasi pertanian tanpa bakar, pelaporan dini, hingga penanganan awal kebakaran sebelum meluas.
Program 500 kelompok MPA Berkelanjutan yang diluncurkan tahun 2026 terus berjalan. Hingga kini, 119 kelompok telah resmi terbentuk, 61 lainnya masih dalam proses pembentukan, dan 320 desa telah ditetapkan sebagai sasaran program. Ini bukan sekadar angka, melainkan fondasi ketahanan komunitas dalam menghadapi ancaman karhutla yang berulang setiap tahun.
Program perhutanan sosial juga menjadi instrumen jangka panjang untuk mengurangi tekanan terhadap hutan. Hingga September 2026, program ini telah menjangkau lebih dari 1,43 juta kepala keluarga pada areal seluas 8,46 juta hektare. Selain itu, 177 hutan adat seluas 376.280 hektare diakui dan dikelola oleh 93.859 kepala keluarga sebagai penerima manfaat. Ketika masyarakat memiliki kepentingan langsung atas kelestarian hutan, motivasi untuk menjaga dari api pun secara alami.
Satu aspek yang sering luput dari sorotan publik adalah nasib satwa liar yang terdampak kebakaran. Kemenhut bersama dokter hewan dan mitra konservasi turun langsung menangani satwa-satwa malang yang kehilangan habitat atau terluka akibat kebakaran. Hingga 8 Oktober 2026, sebanyak 290 individu satwa liar telah ditangani, termasuk 96 orangutan dan 78 bekantan dalam berbagai kondisi, baik hidup maupun mati.
Kemenhut meminta masyarakat segera melaporkan temuan satwa terdampak kepada Balai Konservasi Sumber Daya Alam setempat atau petugas taman nasional terdekat, tanpa mencoba melakukan evakuasi sendiri yang justru bisa memperburuk kondisi satwa.




Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.