Operasi darat itu tak berjalan sendirian. Di udara, helikopter water bombing terus berputar di atas kawasan yang masih membara, menjatuhkan ribuan liter air untuk mempercepat pemadaman. Kombinasi serangan darat dan udara ini menjadi tulang punggung strategi nasional karhutla yang sudah berjalan selama beberapa pekan terakhir.

Kabar yang sedikit menggembirakan datang dari beberapa daerah lain. Kondisi di Riau, Kalimantan Barat, Jambi, dan Kalimantan Selatan dilaporkan menunjukkan perkembangan yang lebih baik dibanding pekan-pekan sebelumnya. Upaya pemadaman di sana mulai membuahkan hasil, meski kewaspadaan tetap harus dijaga.

Harapan besar juga datang dari langit. Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) terus dioptimalkan untuk merangsang pertumbuhan awan hujan di wilayah-wilayah yang masih kering. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan musim hujan akan mulai merata pada pertengahan hingga akhir Oktober 2026—sebuah kabar yang ditunggu-tunggu oleh para petugas di lapangan maupun jutaan warga yang selama berminggu-minggu harus bertahan hidup dalam kepungan asap.

Teknologi modifikasi cuaca yang melibatkan penyemaian awan ini memang bukan solusi instan, namun telah terbukti membantu mempercepat datangnya hujan di beberapa wilayah dalam kondisi yang tepat. Kombinasi antara intervensi manusia di bumi dan rekayasa cuaca di angkasa menjadi pendekatan ganda yang diandalkan pemerintah musim ini.

Dalam arahannya, Presiden Prabowo menegaskan bahwa upaya penanganan karhutla harus terus diperkuat tanpa kompromi. Ia meminta seluruh sumber daya yang tersedia dikerahkan secara optimal—tidak hanya untuk memadamkan api yang sudah ada, tetapi juga untuk mencegah meluasnya kebakaran ke wilayah baru.



Follow Widget